inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Ekonomi Tumbuh, Pekerja 'Lumpuh'

Headline
Dorodjatun Kuntjoro - adb.org
Oleh: Ahmad Munjin
Kamis, 21 Agustus 2008 | 08:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Buruknya kualitas pertumbuhan ekonomi ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal serupa terjadi di negara lain. Ekonom dunia menyebutnya gross without employement, pertumbuhan tanpa tenaga kerja.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dorodjatun Kuntjoro-Jakti mengungkapkan, dalam diskusi-diskusi di seluruh dunia saat ini terungkap bahwa pertumbuhan yang terjadi saat ini tidaklah berkualitas.
"Ekonom menyebutnya gross without employment. Angka pengangguran di China dan India sebenarnya hampir sama seperti di Indonesia, yakni berkisar 9%. Itu dihitung berdasarkan pengangguran terbuka," papar mantan Menko Perekonomian itu di Jakarta, Rabu (20/8).
Menurut Dorodjatun, banyak ekonom menduga terjadinya pertumbuhan yang tidak berkualitas secara global untuk sementara waktu adalah akibat dari kecepatan perkembangan IT.
Sementara ekonomi Indef Fadhil Hasan menilai pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini tidak menyerap tenaga kerja di sektor formal karena pertumbuhan industri manufaktur yang padat karya sangat rendah. Dalam perhitungannya, 1% pertumbuhan ekonomi bisa menghasilkan 700 ribu lapangan pekerjaan.
"Hanya, masalahnya, kesempatan kerja yang diciptakan itu di sektor informal, bukan di sektor formal," kata Fadhil.
Komposisi pertumbuhan ekononomi Indonesia, menurut Fadhil, banyak dipicu oleh sektor padat modal seperti telekomunikasi dan transportasi dibandingkan sektor manufaktur dan pertanian.
Karena itu, Fadhil melihat komposisi pertumbuhan sektor industri manufakturing sangat rendah dibandingkan sektor-sektor non-tradable dan padat modal. "Persoalannya di situ," tandasnya.
Fadhil mencontohkan, pertumbuhan sektor telekomunikasi dan transportasi lebih tinggi dibandingkan sektor-sektor yang tradable seperti sektor manufakturing dan pertanian.
Dengan ketimpangan pertumbuhan itu, elastisistas kesempatan kerja dari pertumbuhan ekonomi terhadap sektor formal sangat rendah. Jika dilihat secara keseluruhan, elastisitas itu tinggi, tapi kemudian diserap sektor informal.
Dulu, di era Orde Baru, setiap pertumbuhan 1% memang hanya menghasilkan 400 sampai 500 ribuan lapangan kerja baru. Tapi, saat itu, pertumbuhan sektor manufakturing mencapai double digit di satu periode tertentu. "Sekarang tidak begitu," katanya.
Di sisi lain, Kepala Badan Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi mengatakan, investasi adalah jawaban bagi pertumbuhan ekonomi berkualitas. Karena itu, investasi jadi komponen penting dalam perekonomian nasional.
Dengan investasi, Indonesia akan mampu menggerakan sektor ekonomi, memungkinkan transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan berujung pada pertumbuhan ekonomi.
Setelah krisis ekonomi, pertumbuhan investasi nasional cenderung bergerak moderat sehingga kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) kurang menggembirakan.
"Sebelum krisis, investasi berkontribusi rata-rata 26% terhadap PDB. Setelah krisis, kontribusinya di bawah 25%," jelas Lutfi.
Semua itu, lanjut Lutfi, berdampak pada tingginya tingkat pengangguran dan lambatnya pemulihan kondisi ekonomi dibandingkan negara-negara lain seperti Korea Selatan dan Thailand . [E1/I3]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.