INILAH.COM, Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk menjajaki kemungkinan melakukan emisi obligasi konversi US$ 1 miliar atau setara Rp 9,1 triliun ahun ini. Dana dari surat utang itu akan dipakai untuk membayar utang perseroan yang jatuh tempo tahun depan.
Rencana emisi itu terungkap pada riset CIMB-GK Securities yang dirilis pada 20 Agustus seusai menggelar Corporate Day di Bali, 14-15 Agustus. Pertemuan itu dihadiri 23 korporasi dan 50 manajer investasi serta analis.
Riset itu tidak menyebut secara eksplisit nilai obligasi konversi dimaksud. Yang pasti, Bakrie & Brothers berencana menerbitkan obligasi yang bisa ditukar jadi saham anak perusahaan.
Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Tbk Yuanita Rohali mengatakan, aksi korporasi itu dilakukan untuk membayar utang US$ 1 miliar atau setara Rp 9,1 triliun yang jatuh tempo tahun depan.
Yuanita menuturkan, perseroan akan melihat struktur pembiayaan yang dinilai terbaik untuk mendukung kebutuhan Bakrie & Brothers. Pilihan pendanaan itu, antara lain, penerbitan obligasi konversi, obligasi konvensional, dan pinjaman bank.
Riset itu lebih lanjut menjelaskan Bakrie & Brothers juga tengah mempertimbangkan diversifikasi usaha dengan tetap mempertimbangkan risiko kredit.
Kebutuhan sumber pendanaan itu terkait dengan terbatasnya pendanaan perseroan. Maklum, dana perseroan banyak tersedot ketika mereka mengakuisisi PT Energi Mega Persada Tbk, PT Bakrieland Development Tbk, dan PT Bumi Resources Tbk.
Selain emisi obligasi itu, Bakrie & Brothers Tbk juga baru saja mengantongi pinjaman dana US$ 300 juta atau setara Rp 2,74 triliun dari JP Morgan Chase Bank NA dan ICICI Bank Ltd. Sebagai garansi atas pinjaman itu, manajemen menggadaikan saham perusahaan publik yang dimiliki perseroan.
Bakrie & Brothers memproyeksikan peningkatan laba bersih perseroan hingga akhir 2008. Jumlahnya tak kepalang tanggung, meningkat 8-9 kali lipat dari perolehan 2007, yakni dari Rp 223 miliar jadi Rp 1,78-Rp 2 triliun.
Di percaturan bisnis nasional, Bakrie & Brothers termasuk perseroan yang sukses menjalani program kebangkitan selepas dihantam badai krisis moneter 1998. Ketika itu, dalam kurun lima tahun, berderet perseroan raksasa bergulingan. Di sisi lain, tak sedikit pula yang terjerat kasus BLBI.
Bakrie & Brothers yang sejak awal berdiri dikomandani keluarga besar Bakrie, kini maju pesat di sektor pertambangan, perkebunan, dan properti. Bahkan, mereka pun sudah kembali berkepak di industri medua, sektor bisnis yang pernah ditekuni pada era 1990-an. [I3]