INILAH.COM, Jakarta - Penguatan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia, dianggap terlalu cepat. Bahkan, menurut hasil survei Bank Indonesia, banyak saham yang harganya sudah terlalu tinggi. Lantas apa yang harus dilakukan investor.
Peringatan yang dilemparkan otoritas moneter, Kamis pekan lalu, seakan menghentak para pelaku pasar. Betapa tidak? Di kala, perdagangan saham sedang dalam kondisi hot, Bank Indonesia menyatakan bahwa di pasar modal telah terbentuk bubble (gelembung) yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Bahkan Ferry Warjiyo, Kepala Riset dan Kebijakan Ekonomi BI dengan tegas menyebutkan, hasil riset yang dilakukan BI menunjukkan banyaknya saham yang sudah over value.
Sayang, ia tidak merinci, efek mana saja yang harganya sudah ketinggian. Yang pasti, isu miring itulah yang menjadi salah satu faktor melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pada perdagangan dua hari terakhir. Sepanjang Kamis dan Jumat pekan lalu, indeks melemah 1,8%.
Kenyataan itulah yang memebuat sebagian pelaku pasar bertindak ekstra hati-hati menghadapi pasar di pekan mendatang. Mereka khawatir, peringatan BI (bubble yang meletus) akan segera menjadi kenyataan.
Lebih baik lihat suasana, jangan dulu membeli, saran seorang kepala riset di sebuah sekuritas asing. Ia juga menyarankan agar investor yang sudah menggenggam gain segera merealisasikan keuntungannya.
Jangan sampai keduluan bandar, tuturnya. Apa yang diprediksi Ferry Warjiyo dan sebagian pelaku pasar, mungkin, ada benarnya. Sebab, jika dihitung sejak awal tahun, indeks telah melesat hingga 12%.
Namun, tak semua orang sependapat jika disebutkan harga saham di BEI sudah lebih tinggi dari nilai fundamentalnya, sehingga ditengarai akan terjadi aksi profit taking besar-besaran. Tidaklah. Koreksi sangat mungkin terjadi, tapi bukan berarti indeks akan memasuki tren menurun, kata seorang analis.
Budi Mulya, Deputi Gubernur BI, juga tidak sependapat dengan koleganya. BEI, kata dia, masih jauh dari ancaman bubble. Perkara melesatnya perdagangan di pasar modal, lanjut Budi, lebih disebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bagus.
Munculnya dua prediksi yang berseberangan itulah yang membuat investor semakin ragu untuk melangkah. Makanya, tdak mengherankan jika sejumlah analis yang dihubungi INILAH.COM menyarankan agar pemodal lebih berhati-hati. Tapi itu bukan berarti diam. Dalam kondisi seperti ini sebaiknya investor menerapkan pola jangka pendek, katanya.
Pilihannya, masih cukup banyak. Karena harga minyak dunia masih berada di jalur menguat dan tingkat suku bunga perbankan cukup rendah, sang analis merekomendasikan beli untuk sejumlah saham dari sektor perbankan, pertambangan dan telekomunikasi.
Kendati sudah mengalami peningkatan, ia yakin, saham PT Bumi Resources (BUMI), PT Adaro Energy (ADRO) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) dalam jangka pendek masih bisa menggeliat 5-10%.
Potensi yang kurang lebih sama juga terpendam dalam saham PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Sementara efek PT Telkom (TLKM) diperkirakan bakan menyentuh level Rp 9.000. Selamat berinvestasi. [mdr]