INILAH.COM, Jakarta - Kredibilitas KPK terus merosot karena berbagai kelemahan para pimpinannya yang tak mampu menjaga diri. Teranyar, pertemuan Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah dengan pengacara kubu Sri Mulyani, makin menyulitkan lembaga superbody yang sudah tergerus berbagai kasus ini. Mau kemana KPK?
Ketika kasus Cicak-Buaya meledak, ribuan mahasiswa dan masyarakat madani (civil society) bergerak membela Bibit-Chandra, membela KPK mati-matian sampai ada yang terluka. "Tapi kini, apa hasilnya? Chandra malah kena masalah karena tidak mampu menjaga diri. Citranya bisa rusak dan kredibilitasnya tergerus. Chandra dan KPK sejatinya mau kemana?," kata Abdulrachim, mantan aktivis ITB 1977-78 yang kini aktif di Komite Bangkit Indonesia dan Gerakan Indonesia Bersih.
Ray Rangkuti, aktivis Kompak (Komunitas Masyarakat Sipil Antikorupsi), juga menegaskan bahwa kasus Chandra mencederai kepercayaan publik. "Sangat disesalkan bahwa ia kurang menghargai gerakan mahasiswa dan masyarakat yang sudah membela dan menjaganya. Kami kecewa," katanya.
Selasa (6/4) malam di Gedung Puri Imperium, Chandra yang juga dihadiri bekas pimpinan KPK Erry Riyana Hardjapamekas, melakukan pertemuan dengan Tim Pembela Bibit-Chandra di antaranya, Arief Surowidjojo dan Taufik Basari.
Arief Surowidjojo diketahui juga sebagai kuasa hukum Menkeu, sementara Erry Riyana Hardjapamekas adalah yang pernah menolak kriminalisasi Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Tapi Chandra membantah pertemuan tersebut membahas penyelidikan skandal Bank Century.
Kedekatan Chandra dengan Arief dan Erry itu jelas bisa menimbulkan konflik kepentingan dan menimbulkan kecurigaan publik. Wajar, jika para pengamat justru mendorong Chandra mundur dari penyelidikan skandal bailout Bank Century karena faktor kedekatan tersebut. "Chandra sebaiknya mundur saja dari tim penuntasan Century karena dia dianggap 'main mata' dengan Arief dan Erry Riyana. Ia terkontaminasi akibat kedekatan tadi," kata advokat Suparwan Zahary Gabat.
Kasus Chandra berdampak negatif atas citra KPK. Bahkan citra KPK mulai redup akibat kasus Chandra itu dan berbagai masalah lainnya. Redupnya pamor KPK juga akibat lambannya menuntaskan Centurygate, yang kemudian juga berdampak pada redupnya prospek pemerintahan SBY dalam membasmi korupsi.
"Integritas KPK harus dibangun kembali. Semua ini harus menjadi perhatian masyarakat dan negara, agar lima tahun ke depan Indonesia tidak hancur ditelan korupsi yang merajalela," kata Ali Tantowi MA, lulusan Universitas Leiden dan peneliti senior Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan (LSIK), Jakarta.
Harian New York Times (15/2) mencatat, bukannya mengartikulasikan sikap tegas terhadap korupsi, SBY malah tampak bimbang menghadapi masalah korupsi yang merajalela ini. Sehingga publik meragukan kesungguhan SBY untuk membasmi korupsi secara menyeluruh. Akibatnya, pencapaian pembangunan selama ini dilupakan publik akibat meluasnya korupsi itu. [ram]