INILAH.COM, Jakarta - Sebagai partai Islam yang diharapkan memberikan keteladanan dan kepeloporan dengan semboyan bersih, peduli dan profesional, PKS harus bersikap transparan dan tegas soal kadernya Andi Rahmat agar tak tercoreng.
"Jangan sampai kasus Andi Rahmat, yang konon salah satu mesin duit DPP PKS, adalah awal bahwa PKS tak konsisten atau ragu-ragu menjadi partai Islam yang bersih, peduli dan profesional, sebab bisa tercoreng nanti. Semua orang ingin PKS bersih dan perduli, umat sudah jenuh dengan parpol kotor," cetus Direktur Institute for the Study of Civil Society Abas Jauhari MS, dalam perbincangan dengan INILAH.COM, di Jakarta, Senin (25/8).
Abas menilai PKS adalah parpol Islam yang menjadi cermin bagi parpol-parpol lain baik nasionalis maupun Islamis. "Sebagai cermin, PKS jangan sampai retak, sebab PKS sudah memiliki pamor dan masa depan. Kasus Andi Rahmat perlu koreksi dan kontrol ke dalam disertai penjelasan dan transparansi dari DPP PKS," ujarnya.
"Kalau memang mantan Ketua Umum KAMMI itu bersih, maka dia perlu dinyatakan bersih, namun kalau kenyataannya sulit juga untuk mengelak, Sekarang ini sudah era keterbukaan," imbuh Abas.
Apalagi, lanjut Abas, Ketua Dewan Syuro PKS Hilmi Aminudin dan Presiden PKS Tifatul Sembiring sering menegaskan bahwa kolutor-koruptor di PKS tidak diperbolehkan dan pasti disingkirkan agar tak mempermalukan dan tak merusak citra partai itu.
"Jika benar Andi Rahmat adalah salah satu mesin uang PKS, justru PKS harus mencopot dia kalau tak bersih." pungkas Abas yang juga peneliti senior PSIK Universitas Paramadina ini.
Sebelumnya, berkaitan dengan berakhirnya pembahasan UU Mata Uang, BI mengajak empat anggota Baleg DPR melakukan kunjungan ke London dan New York. Kunjungan dilakukan selama 10 hari, 3-12 Maret 2007. Selain menanggung ongkos perjalanan, BI juga memberikan uang saku ke masing-masing anggota dewan senilai lebih dari Rp100 juta. Andi Rahmat menjadi salah satu dari 3 anggota Baleg DPR yang ikut pada lawatan tersebut.[L6]