Rabu, 23 Mei 2012 | 20:06 WIB
Follow Us: Facebook twitter
IFC Muluskan Rencana Holcim
Headline
Oleh: Ibrahimsyah
web - Selasa, 26 Agustus 2008 | 09:57 WIB
INILAH.COM, Jakarta - PT Holcim Indonesia (SMCB) memfinalisasi pinjaman sebagian dana pabrik Tuban senilai US$ 525-600 juta dengan International Finance Corporation (IFC) pada triwulan IV 2008. SMCB pun mengincar pasar oil well cement.
Biaya pembangunan pabrik itu semula hanya US$ 420 juta atau setara Rp 3,82 triliun, tapi kemudian membengkak 25-43% seiring dengan peningkatan harga baja.
Presdir Holcim Indonesia Tim McKay mengatakan, peningkatan biaya pembangunan pabrik itu juga mendorong peningkatan belanja modal perseroan tahun ini. Ia tidak mengungkapkan persentase peningkatan belanja modal itu.
Saat ini, perseroan menjajaki pinjaman dari IFC (International Finance Corporation) untuk membiayai belanja modalnya. "Tapi, kami belum bisa mengungkapkan berapa besar pembengkakan belanja modal dan berapa yang dibiayai IFC. Yang jelas naik," papar McKay di Jakarta, Senin (25/8).
McKay menegaskan, perseroan tidak berencana go private karena lebih menguntungkan jika perseroan jadi perusahaan terbuka. Pabrik baru yang dibangun itu diproyeksikan bisa menggenjot kapasitas produksi Holcim dari 7,9 juta ton jadi 10,5 juta ton per tahun pada 2011.
Produsen semen itu punya tiga unit pabrik, yaitu satu unit di Cilacap, Jawa Tengah, dan dua unit pabrik di Narogong, Bogor, Jawa Barat. McKay juga mengatakan, Holcim mengincar pasar oil well cement (OWC) senilai US$ 6-7 juta atau setara Rp 54,6-63,7 miliar.
Legal & Corporate Affairs Director Jannus O Hutapea mengatakan, produksi OWC itu akan dilaksanakan di pabrik Ciwandan, Cilegon. Ia menjelaskan, meski pabrik itu punya kapasitas 600.000 ton per tahun, untuk tahap awal perseroan akan meningkatkan produksi OWC yang semula 25.000 ton per tahun jadi 50.000 ton tahun ini.
"Harga OWC akan kami patok berkisar US$ 120-140 per ton," jelas Jannus.
Holcim memproyeksikan bisa menguasai 21-22% pangsa pasar semen di Indonesia tahun ini dari total permintaan semen 2008 yang diperkirakan 36-37 juta ton.
Dari total pangsa pasar itu, Holcim menguasai 30% pangsa pasar semen di Sulawesi dan Kalimantan, 20% di Sumatera, 15,5% di Jawa, 40% di NTB dan NTT.
Holcim juga menggunakan bahan bakar alternatif untuk menekan biaya produksi. Beberapa bahan bakar alternatif yang dipakai di antaranya sekam padi, cangkang sawit, dan serbuk kayu.
Belum lama ini Holcim melalui anak perusahaannya mengakuisisi lima perusahaan. Empat perusahaan diakuisisi dari PT Readymix Concrete dan satu anak perusahaan dari PT Pandawa Lestari. Langkah akuisisi perusahaan itu diproyeksikan bisa mendongkrak produksi beton dan memperkuat pasar Holcim di daerah Jawa Timur. [E1/I3]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.