INILAH.COM, Jakarta - Keputusan PDI Perjuangan mengajukan Megawati sebagai capres 2009 sudah harga mati. Melihat kecenderungan dukungan publik kepada Megawati maupun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hampir pasti keduanya kembali duel di 2009.
Harga mati sikap PDIP itu agaknya sulit ditawar lagi. PDIP kelihatannya tidak mau Mega dijadikan cawapres bila dipasangkan dengan Partai Golkar. "Kepada Ibu Mega, kita tetap pada komitmen menjadikannya presiden. Tidak mungkin kita downgrade. Keputusan itu sudah bulat," kata Sekretaris FPDIP Ganjar Pranowo di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (26/8).
Mengenai kemungkinan majunya Megawati, pengamat politik Fachry Ali mengingatkan agar SBY-JK tidak menganggap remeh. Sebab, putri Bung Karno itu terbukti masih memiliki konstituen yang mengakar.
Kemenangan cagub PDIP dalam Pilkada di sejumlah provinsi seperti Jawa Tengah, Bali, Maluku, Sulawesi Selatan dan lainnya membuktikan partai berlambang moncong putih dalam lingkaran itu masih memiliki cengkraman yang kuat. "Megawati tidak boleh dianggap remeh, sebagai figur nasionalis, Megawati memiliki basis sosial yang kuat," kata Fachry Ali.
Sudah tentu bila dengan asumsi duet SBY-JK dipertahankan sebagai the best option tentu saja strategi koalisi Golkar-Demokrat harus dihitung cermat.
Dalam hal ini, pengamat ekonomi-politik dan Direktur The Global Nexus Christianto Wibisono menegaskan, SBY harus memperkuat Partai Demokrat guna menjadi kendaraan sekelas "Ferrari" dalam mengebut kemenangan Pemilu 2009. Namun tampaknya, di mata Christianto, opsi ini, setidaknya hingga saat ini, tidak tampak dalam strategi kubu SBY.
Soal koalisi PDIP-Golkar, kalangan politisi partai moncong putih itu menilai semuanya tergantung pada hasil pemilu legislatif. "Pertemuan dewan penasihat kemarin itu untuk kumpul-kumpul, sangat mungkin dilakukan penjajakan politik, karena di situ belum ada statemen bersama untuk menyatakan koalisi," ujar Ganjar.
Dalam persepsi kalangan PDIP, jika hasil pemilu legislatif sudah diketahui, maka proses selanjutnya adalah membahas format politik. Apakah PDIP memerlukan koalisi atau tidak, ini masih dalam pembahasan internal partai moncong putih itu. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !