INILAH.COM, Jakarta - Langkah politik Ketua Dewan Penasehat PDIP Taufik Kiemas (TK) dua hari terakhir ini betul-betul atraktif. Selasa (26/8), TK menghadiri acara politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) setelah sebelumnya bertemu elit Partai Golkar.
Senin (25/8), TK bertemu dengan elit Partai Golkar dalam forum Silatnas Dewan Pensehat DPP Partai Golkar. Tidak sekadar bertemu, di hadapan massa Partai Golkar, TK dengan tegas mengajak Partai Golkar untuk berkoalisi dengan PDIP.
Selasa (26/8) ini, lagi-lagi TK menghadiri acara politik DPP PKS. Meski tidak menyatakan keinginan untuk berkoalisi dengan PKS, TK seakan memecahkan kebekuan 'ideologi' antar dua partai tersebut.
Dalam konteks ini, TK seakan ingin menegaskan kepada publik bahwa PDIP siap melakukan koalisi dengan siapapun dalam Pemilu 2009 mendatang. Di samping itu, langkah ini semakin menegaskan kekuatan personal TK dalam ihwal lobi dan penentu arah kebijakan partai moncong putih. Apa implikasi politis PDIP dalam Pemilu 2009?
TK wanti-wanti, kehadiran dirinya di PKS agar tidak ditafsirkan macam-macam. "Jangan terlalu jauh, kita belum berfikir sampai ke sana (menggandeng Hidayat Nurwahid), sebab berbicara dahulu dengan semua," kata TK seusai menghadiri acara dialog kebangsaan, Selasa (26/8) di Jakarta.
Menurut TK, yang terpenting saat ini adalah mempertemukan visi antar partai dalam hal nasionalisme dan kebangsaan."Kita harus berbicara kepada semua pihak siapa yang menginginkan nasionalisme, menunjung kebangsaan, dan negara kesatuan. Kita akan mencoba berdialog sebaik-baiknya, dan melihat partai mana yang tidak sama dan partai mana yang tidak mungkin berbicara," jelasnya.
Ia menegaskan, jika berbicara koalisi berarti menyinggung soal prinsip antar partai politik. "Kita bicara koalisi itu berarti bicara prinsip. Bagaimana memenangkan bersama-sama. Yang pasti kita belum bicara masalah orang, kita baru berbicara partai dan menyamakan visi partai," tandasnya.
Menurut pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya Sugiharto, langkah TK semakin menunjukkan sikapnya sebagai pelobi ulung dan politisi pragmatis. "TK sangat menentukan dalam lobi baik internal PDIP maupun eksternal PDIP," terangnya kepada INILAH.COM.
Lebih lanjut menurut Direktur Eksekutif The Lead Instititute menilai, langkah TK berimplikasi dua kemungkinan politik. "Jelas langkah TK untuk menjajaki kemungkinan koalisi nasionalis-agamis," terangnya.
Menurut Bima, koalisi PDIP dengan PKS masih sangat terbuka. "Saya kira terlalu dini menutup peluang-peluang. Bagi TK penting untuk jajaki PKS. Ini sangat tergantung, apakah SBY akan tetap menggandeng JK," tandasnya.
Hal ini pula diamini oleh petinggi DPP PKS. Menurut Ketua FPKS DPR Mahfudz Siddiq, peluang koalisi PKS-PDIP sangat terbuka. "Jelas, koalisi tersebut sangat terbuka," tandasnya kepada INILAH.COM, Selasa (26/8) di Jakarta.
Sementara skenario koalisi kuning dan merah, imbuh Bima, sulit bertemu. Menurut dia, dalam sejarahnya PDIP-Partai Golkar bersatu dalam koalisi kebangsaan. "Justru yang bersekutu adalah kubu Akbar Tandjung dan Mega," tegasnya.
Meski terdapat kendala dalam koalisi PDIP dan Partai Golkar, dalam pandangan Bima wacana itu masih terbuka. "Tapi justru yang kemungkinan terjadi adalah PKS memasangkan Hidayat Nur Wahid dengan SBY," katanya.
Atas manuver TK yang cenderung atraktif ini, Bima menyarankan agar PDIP lebih baik berkosentrasi kepada pemenangan pemilu legislatif dan ide-ide inovatif. "Akan problem jika TK berlebihan bermanuver, akan berimplikasi di level bawah," ingatnya.
Manuver elit politik menjelang pemilu ini jelas akan semakin intensif. Meski demikian, forum pertemuan antar elit jangan sampai mengarah pada politik dagang sapi, tapi mementingkan kepentingan publik. [Bersambung/E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !