INILAH.COM, Jakarta Aksi Hillary Rodham Clinton sungguh menyejukkan. Tak hanya di Amerika Serikat, tapi seluruh penjuru dunia. Juga ke Indonesia. Kedewasaan berpolitik seperti itu, membuat kagum Wakil Presiden M. Jusuf Kalla.
Persaingan politik antara Hillary dan Barack Obama, untuk memenangkan posisi sebagai calon presiden AS dari Partai Demokrat, berakhir elegan dan menawan. Hillary kalah dan secara kesatria mengakui keunggulan Obama. Wanita perkasa ini kemudian menegaskan Obama adalah kandidat presiden baru Amerika.
Tak cukup di situ, Hillary menyatakan mendukung sepenuhnya Obama. Dia pun menyerukan rakyat AS, terutama pendukungnya, memilih Obama sebagai pemimpin masa depan Amerika.
"Di Amerika, tidak ada permusuhan, tidak ada perseteruan politik. Yang ada adalah keterbukaan, etika, dan kedewasaan politik serta keadaban dan kenegarawanan," kata ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla mencontohkan bagaimana kultur dan tabiat politik di AS.
Sayangnya, Kalla tak melihat kedewasaan berpolitik yang utuh di Indonesia. Di negeri ini, kata Kalla, jika seseorang kalah berlaga pada pemilihan presiden atau gubernur, termasuk juga di partai politik, yang terjadi adalah sikap seperti bermusuhan. Tak ada saling tegur sapa. Yang ada hanya prasangka, memperlebar jarak, dan bahkan menyimpan dendam.
"Kita merindukan semangat kenegarawanan, persaudaraan dan kesantunan dalam politik,'' tutur Kalla. Bahkan Kalla menyebutkan Presiden RI pertama, kedua, dan berikutnya juga tak saling tegur sapa. Tak ada silaturahmi.
Padahal, merujuk pada Hillary dan Obama, tak pendek waktu yang mereka habiskan untuk bersaing. Tapi, pada 7 Juni lalu, di Washington DC, Hillary menyampaikan pidato historis. Dia menyerah dalam pertarungan memperebutkan tiket capres Partai Demokrat.
Perjuangan menjadi capres selama lima bulan sudah merupakan pengerahan segalanya. Hasilnya, Senator New York ini harus menyerah takluk pada Barack Obama.
Menurut Vaclav Havel, dramawan, eseis, novelis dan pemimpin Ceko, keteladanan pemimpin sangat erat kaitannya dengan pribadi yang baik. Dia menyebutnya sebagai living in truth, hidup dalam kebenaran. Keberanian tampil dalam persaingan. Keberanian menerima kemenangan. Keberanian menerima kekalahan.
Fenomena Hillary, oleh sebab itu, harus menjadi inspirasi dan nilai-nilai ilhami bagi elite politik di Tanah Air, utamanya menjelang Pemilu 2009. Dengan begitu, besar harapan, dalam persaingan politik, yang mengedepan adalah etika, moralitas, dan spirit persaudaraan dan kebangsaan. Jadi, bukan kepentingan orang per orang. Juga, bukan kepentingan kelompok per kelompok, golongan per golongan.
Masa depan politik Indonesia tidak boleh dikotori oleh permusuhan. Politik Indonesia harus disejukkan dengan warna persaudaraan, saling menyayangi dan rasa senasib sepenanggungan. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyebutnya sebagai 'politik ruhamma'. [I4]