inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Tekan Konsumsi BBM, Realistis?

Headline
Evita Herawati Legowo - tempophotostoc.com
Oleh: Ahmad Munjin
Jumat, 29 Agustus 2008 | 08:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Kendati konsumsi BBM bersubsidi tahun 2008 diprediksi akan melebihi kuota dan lifting minyak tidak bisa digenjot lagi, pemerintah tetap optimistis mampu menekan konsumsi BBM tahun 2009. Bagaimana bisa?
Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Evita Herawati Legowo mengatakan, pemerintah akan menjalankan program konversi dan diversifikasi guna mencapai target kuota BBM bersubsidi. Program konversi yang dilakukan antara lain melakukan kampanye dan sosialisasi hemat energi dan pemakaian minyak bakar pada pembangkit.
"Misalkan saja program konversi 2009 yang mengalihkan volume minyak tanah bersubsidi sebesar empat juta kiloliter dengan 1,6 juta ton elpiji. Sehingga, konsumsi minyak tanah bersubsidi hanya 5,8 juta kiloliter di 2009 mendatang," ujarnya.
Pernyataan Evita ini menjawab pertanyaan mengenai total konsumsi BBM subsidi untuk RAPBN 2009 yang ditetapkan 36,854 juta kiloliter, lebih rendah dari 2008. Rinciannya premium 19,444 juta kiloliter, minyak tanah sebesar 5,804 juta kiloliter, dan solar 11,605 juta kiloliter.
Penetepan target ini seakan tidak melihat fakta yang terjadi di lapangan. Hingga 27 Agustus, total konsumsi BBM bersubsidi mencapai 25,761 juta kiloliter atau 72% dari kuota APBNP 2008. Rinciannya premium 12,485 juta kiloliter, minyak tanah 5,526 juta kiloliter dan solar mencapai 7,75 juta kiloliter.
Dengan kondisi seperti ini, maka estimasi konsumsi hingga akhir tahun bisa melonjak hingga 38,923 juta kiloliter atau melonjak 9,7% dari kuota. Jumlah tersebut terdiri dari premium 19,47 juta kiloliter, minyak tanah 7,56 juta kiloliter, dan solar 11,891 juta kiloliter.
Evita menjelaskan, salah satu penyebab kenaikan konsumsi ini adalah pertumbuhan kendaraan yang melebihi ekspetasi dan banyaknya kendaraan industri terutama di daerah pertambangan dan perkebunan yang juga menggunakan BBM subsidi.
Evita juga mengakui untuk memenuhi kebutuhan minyak dari produksi dalam negeri cukup sulit. Apalagi produksi lapangan minyak domestik menurun sampai 13%. Meskipun pihaknya akan berusaha menahan kejatuhan hanya di level 9%.
"Target lifting 950 barel per hari (bph) itu sudah yang paling realistis buat kami. Supaya produksi kita tidak terlalu jatuh, lifting akan dinaikkan sehingga tertahan di level 9%," paparnya.
Ia menjelaskan, minyak bumi itu tidak terus-terusan berproduksi sebanyak itu. Sekarang kilangnya tambah tua, maka produksi minyak bumi bakal tambah menurun. Penurunannya di 13% ini akan ditahan di 9%. "Namun, harus ada kilang minyak-kilang minyak yang baru," tuturnya.
Pada Januari-Februari angka lifting masih rendah rendah, yaitu masing-masing 922.940 barel per hari dan 828.870 bph. Jumlah ini kemudian naik menjadi 980.130 bph pada Maret dan 956.000 bph pada April. Sedangkan realisasi pada semester I 2008 rata-ratanya mencapai 925.000 bph.
Sebelumnya, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Aviliani mengungkapkan, pemerintah perlu menyiapkan suatu skema energi yang komprehensif, menyeluruh dan mempunyai visi ke depan agar mampu keluar dari krisis energi.
Selama ini kebijakan mengenai energi tidak pernah tuntas, berubah-ubah sehingga seringkali memberikan beban berkepanjangan kepada masayarakat dengan naiknya harga dan kelangkaan energi. "Gonjang-ganjing ekonomi Indonesia salah satu sebab utamanya adalah tidak komplitnya skema penyediaan masalah energi di Indonesia," paparnya.
Seringkali kebijakan pemerintah berubah-ubah. Dulu masyarakat dianjurkan memakai briket batubara, kemudian kebijakan itu tanpa ada kelanjutan, muncul lagi konversi minyak tanah ke gas. Namun ketika masyarakat sudah mulai menggunakan gas sebagai sumber energinya, muncul lagi masalah harga gas yang terus naik dan barangnya langka. [E2/E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.