INILAH.COM, Jakarta - Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung memprediksikan peluang Golkar berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Pemilu 2009 adalah 50:50.
Akbar berpendapat banyak hal mendasar yang menjadi bahan pertimbangannya, termasuk keinginan PDIP yang tetap mengusung Megawati Soekarnoputri menjadi presiden.
Akbar mengakui hasil polling dari beberapa lembaga survei saat ini menempatkan PDIP pada posisi puncak partai yang paling berpeluang pada Pemilu 2009 mendatang.
Namun hal itu bukanlah acuan utama bagi Golkar untuk segera memutuskan berkoalisi
dengan partai lain. Sebab waktu pelaksanaan pemilu masih mencukupi buat Golkar melakukan
perubahan untuk jadi yang terbaik.
"Ya saya rasa peluangnya masih sama-sama lah bisa ya bisa tidak. Karena jika PDIP menang, jelas Golkar harus memposisikan di nomor dua, tapi kalau yang menang Golkar, apa mau PDIP menjadi nomor dua? Hal-hal semacam inilah yang harus dipertimbangkan dengan cermat oleh semua pihak," kata Akbar kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (30/8).
Dari hasil polling yang dilansir sebuah lembaga survei sekitar dua bulan lalu, Akbar
menyatakan bahwa PDIP mendapatkan 22% suara dan Golkar hanya 18% suara.
Namun, Akbar menjelaskan bahwa lebih masuk akal jika keputusan berkoalisi diputuskan setelah mengetahui hasil pemilu legislatif. Alasannya, berdasarkan hal itu peta kekuatan partai bisa terbaca.
"Jadi yang paling efektif dan tepat menurut saya, menentukan siapa calon presidennya
lebih baik setelah pemilu legislatif nanti," ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Akbar mengharapkan keputusan tentang UU Pemilu bisa segera diselesaikan, walaupun UU tahun 2003 dinilainya masih layak untuk dipakai. Sedangkan Golkar sendiri, katanya, bisa melakuakan koalisi dengan partai manapun asalkan bisa menyamakan persepsi visi dan misi.
"Jadi, ya tidak harus berkoalisi dengan PDIP," pungkasnya.[L2]