INILAH.COM, Jakarta - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring belakangan ini mengidamkan koalisi Islam dengan nasionalis.
Jika itu yang diinginkan, sebaiknya PKS mengincar berkoalisi dengan PDIP dan Partai Golkar.
"PKS harus membuka diri dengan Partai Golkar dan PDIP," kata pengamat politik Arya Bima dalam perbincangan dengan INILAH.COM, Sabtu (30/8), terkait dengan keinginan koalisi Islam dan nasionalis dari PKS.
Arya menambahkan, PKS harus membuka opsi-opsi terhadap partai besar. PKS dengan modal mesin partai yang kuat, dapat melirik Partai Golkar dan PDIP untuk mewujudkan keinginan membentuk koalisi Islam-nasionalis.
"Jika PKS hanya bermain sendiri maka itu tidak baik," ujarnya.
Namun, Arya menjelaskan bahwa membuat koalisi Islam dan nasionalis jika dibangun dari sekarang sangat prematur.
"Lebih baik sekarang penjajakan koalisi dulu," katanya.
Arya mengatakan PKS mulai sekarang harus membangun komunikasi politik, dan PKS harus melakukan testing voters untuk pencitraan.
"Kalau citra PKS terlalu Islam, maka segmennya harus dibalik. Oleh karena itu PKS harus membuka diri dengan menciptakan dan menyatakan sebagai partai terbuka," paparnya.
Menurut Arya, kontrak politik pilpres untuk saat ini belum bisa dilakukan dan itu telalu dini. Kontrak politik dibuat setelah adanya pemilihan legislatif.
"Lebih baik PKS sekarang mengetahui suara partai dan pencitraan partai," pungkasnya.[L2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !