INILAH.COM, Jakarta - Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Ungkapan itu tampaknya belum pas untuk penggambaran sistem perpolitikan di Indonesia yang belakangan banyak memunculkan kader baru partai yang berasal dari keluarga.
Menurut pengamat politik Arya Bima, secara kualitas tokoh muda masih dipertanyakan pemikirannya dalam memahami dan solusi terbaik bagi masalah perpolitikan nasional.
Tokoh muda itu diindikasikan dalam kinerjanya
tidak bisa lepas dari bayang-bayang sukses dan prestasi politik orang tua mereka.
"Contohnya Puan Maharani, yang mendompleng popularitas ibunya Megawati Soekarnoputri," kata Arya Bima dalam perbincangan dengan INILAH.COM, Sabtu (30/8).
Dengan adanya putra-putri dari para petinggi partai menjadi caleg, Arya berpendapat hal itu sebagai upaya generasi politisi senior untuk melanjutkan trah politiknya. Selain itu juga karena adanya upaya partai merebut suara dengan memanfaatkan sentimen tradisional.
"Klan atau keluarga yang memang diharapkan mampu menjaga suara," ujarnya.
Dilihat caleg dilihat dari aspek kuantitas, jika semakin banyak keluarga yang ikut dalam suatu partai, hal itu bisa menghancurkan partai yang bersangkutan.
Sementara dari aspek kapasitas, caleg yang bertalian darah harus mengikuti prosedur formal partai.
"Dari aspek kualitas, caleg tersebut harus ada kualitas yang diimbangi dengan talent," pungkasnya.[L2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !