INILAH.COM, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membantah posisi Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) dalam status rawan. Padahal, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan untuk pertama kalinya terjadi defisit dalam NPI sebesar US$ 270 juta.
"Neraca perdagangan cukup aman, memang komposisinya berubah sebagai konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tandas Menkeu yang juga menjabat Menko Perekonomian, Sri Mulyani Indrawati, usai rakor Tim Optimalisasi Penerimaan Negara (OPN), Selasa (2/9), di Jakarta.
Ia mengatakan, saat ini terdapat tren pertumbuhan ekonomi yang masih cukup kuat di mana komponen penunjangnya adalah barang modal, bahan baku, dan bahan konsumsi. "Kita lihat tren impor ini meningkat cukup tajam dalam setengah tahun terakhir," tegasnya.
Sri Mulyani menilai, Bank Indonesia harus berhati-hati dalam mengelola neraca pembayaran Indonesia. "Potensi ekspor kita yang masih banyak harus terus digenjot. Sedangkan, impor yang tujuannya untuk produksi memang tidak bisa dicegah dan punya korelasi positif terhadap total kinerja perekonomian secara makro," ujarnya.
Menurutnya, guna menjaga neraca pembayaran secara keseluruhan akan berhubungan dengan kemampuan untuk menciptakan lingkungan ekonomi yang baik sehingga modal yang masuk baik dalam bentuk portofolio maupun investasi asing langsung (FDI) bisa jalan.
Sesuai data BPS, defisit perdagangan RI karena volume ekspor yang lebih kecil dari impor. Pada Juli 2008, angka ekspor Indonesia sebesar US$ 12,55 miliar. Sedangkan angka impor mencapai US$ 12,8 miliar.[L5]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !