Minggu, 27 Mei 2012 | 01:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Koleksi BUMI Sekarang Juga!
Headline
inilah.com/subekti
Oleh: Asteria
web - Rabu, 3 September 2008 | 11:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Harga minyak mentah dunia memang terus merosot. Tapi, emiten batubara, PT Bumi Resources (BUMI) masih dapat rekomendasi positif. Hal ini terkait dibukanya enam lokasi tambang anak usahanya PT Kaltim Prima Coal.
Pada perdagangan Rabu (3/9) pagi, saham BUMI terpantau melemah Rp 100 menjadi Rp 4.950. Sehari sebelumnya, BUMI juga anjlok Rp 250 (4,72%) dan ditutup pada level Rp 5.050.
Kendati berada dalam tren melemah, beberapa analis justru memberi rekomendasi positif untuk saham primadona ini. Dibukanya kembali tambang di Sangatta memberi pengaruh baik.
Trimegah Securities, misalnya, menyarankan investor membeli saham ini. "Kami merekomendasikan beli untuk saham BUMI dengan target harga Rp 8.150 per lembarnya," papar Trimegah, seperi terungkap dalam riset hariannya.
Manajemen BUMI menyatakan KPC telah kembali mengoperasikan tambang batubara di Sangatta per Selasa (2/9). Tambang yang berlokasi antara Melawan dan Pelikan itu sebelumnya dipasangi garis batas polisi untuk kepentingan penyidikan dugaan sengketa lahan antara KPC dan Porodisa.
Sebelumnya, Polda Kaltim memberhentikan aktivitas produksi di area seluas 2.200 hektar selama 23 hari, sejak 10 Agustus. KPC sempat dituding tidak memiliki izin kehutanan.
KPC dilaporkan PT Porodisa ke Polda Kaltim terkait dugaan penambangan di atas lahan HPH miliknya yang juga beroperasi di Kabupaten Kutai Timur. Bahkan Pemkab Kutai Timur mengeluarkan kebijakan menghentikan sementara operasional KPC.
Di sisi lain, kepolisian masih menyelidiki kemungkinan penyebab kebakaran di sejumlah titik lokasi pertambangan KPC. Hingga kini, dikabarkan terdapat 13 titik lokasi kebakaran di enam pit tambang KPC di Sangatta. Kabarnya, terdapat 227 ribu ton cadangan batubara yang siap ditambang habis terbakar.
Riset Samuel Sekuritas mengungkapkan, pembukaan kembali enam pit tambang itu merupakan sentimen positif di tengah turunnya saham BUMI. "Saat ini BUMI diperdagangkan pada price to earning ratio (PER) 2008-2009 sebesar 10,3 kali dan 6 kali. Kami masih merekomendasikan buy untuk BUMI," ujar Samuel.
Adapun turunnya saham BUMI pada perdagangan kemarin dilatarbelakangi anjloknya harga minyak yang memicu aksi jual investor. Untuk jangka pendek, saham BUMI sebenarnya berpotensi melemah dengan indikator moving average jangka pendek masih berada di bawah jangka panjangnya. Apalagi kembali turunnya harga minyak di level US$ 109 per barel turut menjadi sentimen negatif bagi BUMI.
Pada perdagangan di New York dinihari tadi, kontrak utama minyak light turun US$ 5,75 ke level US$ 109,71 per barel. Kontrak ini sempat merosot hingga US$ 105,46 per barel. Sementara minyak jenis brent ditutup turun US$ 1,07 ke level US$ 108,34 per barel. [E1/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.