Minggu, 27 Mei 2012 | 02:35 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Menangkap Peluang Lain di BEI
Oleh:
web - Rabu, 3 September 2008 | 12:07 WIB
Waktu saya baru mengenal dunia pasar modal beberapa tahun lalu, saham-saham pertambangan belumlah menjadi primadona bursa, seingat saya dulu sektor telekomunikasi dengan TLKM dan ISATnya ditambah dengan ASII adalah '3 diva' BEJ ketika itu.

Seiring waktu berlalu, ratu-ratu panggung ini mulai ditinggalkan oleh para investor 'fans'nya yang beralih selera ke saham-saham sektor pertambangan dan komoditas.

Logikanya memang saham-saham sektor pertambangan, consumer goods dan properti adalah tiga sektor yang 'kaga ada matinye'.

Bila kita ingat-ingat lagi pesan kakek-nenek kita jaman dahulu: "Kalau punya duit lebih, beliin emas atau tanah, cu." Itu nasehat yang terus saya ingat dari almarhum nenek saya.

Emas (termasuk juga komoitas logam lain) serta tanah. Memang secara logika harganya akan terus menanjak seiring waktu karena emas dan komoditas-komidtas logam merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, demand & supplynya cenderung tidak berimbang.

Saham-saham sektor properti yang mengandalkan 'jualan tanah' pun secara logika akan naik seiring waktu karena semakin sulitnya kita memperoleh tanah baik untuk ditinggalkan atau untuk keperluan bisnis apalagi di daerah-daerah yang lokasinya strategis.

Sementara saham-saham sektor consumer goods ibarat sebuah gedung dengan konstruksi tahan gempa, saham-saham sektor ini walaupun agak susah untuk melaju kencang dan cenderung stabil pergerakan harganya tetapi cukup aman dari goncangan-goncangan di BEI, karena demand yang cenderung tetap.

Kalau mau dipikir-pikir apa ada rumah yang tidak tersentuh oleh produk-produk UNVR dan INDF? Mulai dari urusan luar dari rambut hingga ujung kaki sampai urusan perut tersentuh oleh dua emiten yang sudah mapan ini.

Ketika nostalgia akan masa pertama saya kenal dengan dunia pasar modal inilah saya mencoba mengemukakan sebuah pendapat yang secara terbuka boleh diperdebatkan dengan saya.

Menurut saya sektor pertambangan dan komoditas adalah sektor yang tidak riil. Mengapa? Karena mayoritas kita sebagai investor tidak pernah melihat area-area pertambangan dan perkebunan yang umumnya berada di luar pulau Jawa, sementara mayoritas investor BEI berdomisili di pulau Jawa (kalau tidak mau dikatakan Jabodetabek).

Saat ini sepertinya saat yang tepat bagi para investor untuk kembali menanamkan dananya pada sektor-sektor yang saya pikir sudah terkoreksi cukup dalam sehingga romantisme untuk kembali mengoleksi saham-saham yang saya sebut '3 diva' di atas.

Terutama ISAT, secara pribadi saya sangat salut dengan investor-investor Timur Tengah. Saya lihat tipikal investor dari wilayah ini sangat agresif dalam mewujudkan ambisinya.

Kalau kita lihat dari area sepakbola, konsorsium dari Timur Tengah baru saja membeli kulb sepakbola Manchester City yang langsung menyalip Chelsea dalam mendapatkan Robinho, kembali ke BEI, ISAT yang dibeli oleh Qtel juga agresif dalam upaya meningkatkan kepemilikannya.

Ketika mereka dihadapkan pada peraturan, mereka berusaha melenturkannya dengan berkolaborasi dengan seorang pengusaha nasional dan bertemu dengan Wakil Presiden.

Pertanyaannya sekarang adalah jika orang asing saja begitu menghargai kinerja emiten kita seperti ISAT, mengapa kita yang sebagian besar setiap harinya berlalu lalang melewati kantor pusat ISAT di seberang Monas, masih terpaku pada romantisme komoditas dan pertambangan?

Mungkin ini saatnya kita untuk melihat bahwa BEI tidaklah kecil, masih ada peluang mendapatkan gain di luar sektor-sektor yang selama ini menjadi primadona dalam membuai para investor.

Irwan Buniardi
irwan.buniardi@megaci.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.