INILAH.COM, Jakarta Politisi muda Partai Golkar, Yuddy Chrisnandi, menarik berkas pencalegannya. Inilah puncak dari politik melodramatik Yuddy. "Tak ada alasan bagi Yuddy kecewa dengan Partai Golkar," tegas Sekjen Formappi, Sebastian Salang.
Yuddy secara resmi memutuskan menarik berkas pencalegannya dari Partai Golkar, Rabu (3/9). Penarikan diri itu dilakukannya di hadapan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, HR Agung Laksono.
Yuddy menegaskan, pengunduran dirinya dari pencalegan Partai Golkar adalah keputusan rasional dan tidak emosional. "Saya mundur sama sekali tidak dengan keputusan emosional. Saya sudah mendiskusikan dengan kawan-kawan DPP dan tim saya," ujarnya.
Yuddy juga menepis tuduhan, pengunduran dirinya dari caleg Partai Golkar karena bentuk ketakutan bersaing dalam Pemilu 2009. "Mundurnya saya bukan karena saya takut dengan suara terbanyak. Di dapil saya kuat. Bukan pula semata-mata tempat saya bukan nomor urut atas, dan bukan pula ambisi pribadi di DPR," tandasnya.
Menurut dia, pengunduran diri ini disebabkan inkonsistensi, tidak adil, dan tidak objektifnya Tim Tujuh DPP Partai Golkar. Tim Tujuh adalah tim yang dibentuk dalam penyusunan daftar caleg.
Yuddy menyebutkan, sekalipun Golkar menerapkan suara terbanyak, hingga saat ini payung hukumnya belum ada. "Ada inskonsitensi dengan aturan yang tidak jelas. Dalam rapimnas disepakati adanya sistem skor, latar belakang pendidikan, lama mengabdi," tandasnya. Menurut dia, hingga saat ini DPP tidak bisa menjelaskan kenapa dirinya ditaruh di nomor empat.
Meski mundur, Yuddy tetap berkonsentrasi sebagai anggota DPR hingga akhir masa jabatannya pada Oktober 2009. Selain itu, penarikan ini tak membuatnya hengkang dari Golkar. "Tidak mudah bagi saya untuk keluar dari Partai Golkar. Karena selama 16 tahun saya berkiprah di partai, Golkar partai baik," tegasnya.
Yuddy sebenarnya tak sendirian bernasib seperti itu. Sejumlah pengurus Partai Golkar seperti Anton Lesiangi (Ketua DPP), Yusli Nasution (DPP), Sisu Pahu (Sekretaris Pokja OKK), dan Totok Mulyanto (Ketua Kosgoro), tak jauh beda peruntungannya. Anton ditempatkan di dapil DKI III nomor urut tujuh. "Bentuk penentuan caleg saat ini tertutup," ujar Anton.
Agung sendiri menyesalkan mundurnya Yuddy. "Tapi, saya juga menghargai keinginannya. Itu adalah hak politik. Lebih lagi, meski menarik pencalegan, Yuddy tetap jadi anggota DPP PG," kata Agung yang juga Ketua DPR RI itu.
Agung menepis tudingan Yuddy dan kawan-kawan soal penenuan caleg. Menurutnya, penentuan daftar diproses sesuai mekanisme yang telah ditetapkan rapimnas. "Melibatkan DPD, melibatkan korwil. Jadi sudah ditetapkan sesuai dengan mekanisme," terang Agung.
Sikap Yuddy tampaknya tak sepenuhnya direspon positif. Sekjen Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang, menyayangkan kemunduran Yuddy. "Yuddy seharusnya jangan kecewa berapapun nomor urut yang diberikan," tegasnya.
Menurut Sebastian, kekecewaan Yuddy tidak beralasan, terlebih Partai Golkar menerapkan suara terbanyak. "Dengan suara terbanyak, partai politik telah memberikan kesempatan yang sama pada masing-masing calon," tutur Sebastian.
Langkah mundurnya Yuddy dari pencalegan PG hakikatnya adalah fenomena hal biasa saja. Meski Yuddy menegaskan, dengan tidak terlibat dalam pencalegan, dirinya akan fokus dalam pencapresan 2009 mendatang. Inikah langkah Yuddy menciptakan politik pencitraan dengan memunculkan kesan iba atau mellodramatik bagi publik? [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !