INILAH.COM, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk hingga mendekati level 2%. Anjloknya harga minyak mentah dunia di bawah level US$ 110 per barel, menyeret turun saham komoditas ke jurang kegelapan.
Pada penutupan perdagangan saham, Rabu (3/9), IHSG anjlok 43,052 poin (1,99%) menjadi 2.116,000. Indeks LQ-45 turun 11,256 poin (2,51%) menjadi 437,161 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 9,830 poin (2,82%) menjadi 338,214.
IHSG pada awal perdagangan dibuka langsung turun 1,58% pada level 2.159 dan terus meluncur hingga sesi dua berada di level 2.124. Turunnya bursa ini akibat merosotnya harga minyak yang memicu investor melakukan aksi jual terhadap sahamsaham komoditas.
"Turunnya harga minyak berimbas pada harga komoditas. Selain karena Indonesia adalah produsen terbesar, kapitalisasi sektor ini juga besar di pasar bursa," ujar Asti Pohan, analis BNI Securities.
Di pasar Asia, harga minyak mentah untuk kontrak Oktober turun 56 sen (0,5%) dan diperdagangkan pada posisi US$ 109,15 per barel. Pada penutupan perdagangan dini hari tadi harga minyak mentah anjlok US$ 5,75 (5%) menjadi US$ 109,71 per barel. Harga minyak selama satu tahun belakangan telah mengalami kenaikan sebesar 48%.
Harga minyak mentah kembali turun dalam empat hari berturut-turut setelah adanya kepastian bahwa Badai Gustav tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan di fasilitas pengilangan dan penyulingan minyak di Teluk Meksiko. Sementara itu rally dolar AS yang terus berlanjut turut mengakibatkan berkurangnya permintaan terhadap komoditas.
Asti kembali memaparkan, saham sektor perbankan yang diharapkan bisa menopang terpuruknya komoditas, ternyata juga terkoreksi. Penurunan ini terjadi di tengah isu bahwa BI akan menaikkan sukubunga BI rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Kamis (4/9) besok.
Pada perdagangan saham hari ini transaksi tercatat 55.891 kali, dengan volume 2,114 miliar unit saham, senilai Rp 3,524 triliun. Sebanyak 41 saham naik, 164 saham turun dan 43 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.400 menjadi Rp 12.900, PT Indo Tambangmegah Raya (ITMG) turun 1000 menjadi Rp 26.000, PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 250 menjadi Rp 4.800, serta PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) turun Rp 250 menjadi Rp 1.800,
Demikian pula PT Gas Negara (PGAS) turun Rp 150 menjadi Rp 2.425, PT Bank Damnamon (BDMN) turun Rp 200 menjadi Rp 5.300, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) turun Rp 40 menjadi Rp 1.330 dan PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 75 menjadi Rp 2.850 dan PT Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 75 menjadi Rp 3.300.
Sedangkan saham-saham yang mencatat kenaikan harga adalah, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 150 menjadi Rp 6.400, PT Astra Internasional (ASII) naik Rp 100 menjadi Rp 21.300 dan PT Semen Gresik (SMGR) naik Rp 25 menjadi Rp 4100, serta PT Bank Panin (PNBN) naik Rp 10 menjadi 970.
Sementara itu, bursa regional sore ini terpantau ditutup bervariasi. Indeks Nikkei di bursa Jepang naik 80,12 poin (0,6%) menjadi 12.689,59 basis poin dipicu aksi beli pelaku pasar terhadap sektor otomotif dan perusahaan kertas. Sedangkan indeks Topix naik 8,18 poin (0,7%) menjadi 1.220,55 basis poin.
Sementara itu indeks Shanghai di bursa China turun di level terendah 20 bulan. Indeks Shanghai melemah 28,2 poin (1,2%) pada level 2.276,67 untuk hari ketiga setelah terjadi tekanan aksi jual terhadap perusahaan batubara.
Indeks Hang Seng di bursa Hong Kong turun 1,6% pada level 20.711, indeks Kospi Korea naik 1,40% pada level 1.426,89, dipicu menguatnya sektor teknologi setelah sempat melemah hingga mendekati level terendah 18 bulan. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !