INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah hingga kini belum memutuskan harga negosiasi ulang kontrak penjualan gas alam cair (liquified natural gas/LNG) Tangguh dengan Pemerintah China.
"Saya tidak akan menyatakan pandangan sekarang, karena yang namanya negosiasi itu berkembang. Jadi nanti saya kumpulkan dulu," kata Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian, Sri Mulyani Indrawati, di Kantor Kepresidenan, Rabu (3/9).
Keputusan penjualan gas Tangguh ke Fujian China terjadi pada masa pemerintahan Presiden Megawati di 2002 silam. Pemerintah saat itu, memutuskan menjual gas alam cair Tangguh seharga US$ 2,4 per mmbtu dengan patokan harga minyak mentah US$ 25 per barel.
Harga ini selanjutnya diperbarui lagi menjadi US$ 3,35 per mmbtu pada 2006 dengan patokan harga minyak US$ 38 per barel.
Menurut Sri Mulyani, perubahan situasi pasar menyebabkan harga juga melonjak. "Memang banyak faktor yang bisa dijadikan alasan untuk mulai melakukan atau melihat kembali kontrak tersebut," pungkasnya.[L5]