Minggu, 27 Mei 2012 | 01:21 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham Aman Jangka Pendek
Headline
inilah.com/Abdul Rauf
Oleh: Asteria & Natascha
web - Kamis, 4 September 2008 | 08:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Kamis (4/9) diperkirakan melanjutkan pelemahan. Kendati harga minyak terus jatuh dan mendorong koreksi saham komoditas, sektor ini masih direkomendasikan untuk trading jangka pendek.
Analis NISP Sekuritas Djoko Rahardjo mengatakan, koreksi di pasar bursa masih akan terus berlanjut, terutama dari sektor energi dan batubara. Apalagi harga minyak dunia masih berpotensi mengalami pelemahan dan berimbas kepada sektor komoditas.
OPEC mengindikasikan harga minyak akan menuju level US$ 100 per barel. Di angka itu mereka akan membatasi produksi untuk meningkatkan harga minyak di pasar internasional.
Hal ini mengindikasikan bahwa harga minyak memang benar-benar akan mengarah ke level US$ 100 per barel. "Dengan adanya tren menurunnya harga minyak, pasar akan menjadi negatif. Untuk trading short term pasar masih jelek," ujarnya.
Sebenarnya pada perdagangan kemarin, ada sedikit penguatan dari sektor perbankan. Namun, kenaikan itu menjadi tidak berarti karena besarnya kapitalisasi sektor komoditas di lantai bursa, meski secara komposisi hanya 30% dari total emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Alhasil, sementara saham komoditas terjun bebas, indeks saham anjlok. Karena tidak ada faktor eksternal yang men-support saham perbankan," ulasnya. Apalagi sentimen untuk sektor perbankan justru negatif, yaitu adanya ekspektasi kenaikan suku bunga BI.
Dalam jangka pendek, BI terdesak menaikkan suku bunga. Meskipun inflasi rendah, tapi likuiditas di pasar masih tinggi. BI pun dianggap tidak bisa melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar.
Apalagi dengan neraca perdagangan yang defisit dan ekspor melemah, berlanjut pada cadangan devisa yang terkuras untuk intervensi. Hal ini memicu BI untuk mengambil kebijakan menaikkan sukubunga. "Semula diharapkan perbankan bisa menopang dulu pasar bursa, tapi karena adanya kenaikan suku bunga, akhirnya jadi negatif," ulas Djoko.
Lebih lanjut ia mengatakan, saham perbankan masih diuntungkan dari koreksi harga minyak. Banyak investor yang melakukan switching dari sektor komoditas ke sektor perbankan.
Selain itu, imbuhnya, kalaupun BI rate naik, kenaikannya hanya terbatas sampai 9,5%, yang merupakan target maksimal hingga akhir tahun. "Saham bank bisa dikoleksi, namun sebaiknya menunggu ketika harga minyak relatif stabil," ujarnya.
Untuk spekulasi harian, Djoko masih merekomendasikan saham komoditas. Namun, investor tetap harus mencermati pergerakan harga minyak, apakah ini real koreksi atau hanya spekulasi.
Para spekulan di pasar komoditas, lanjutnya, akan mengakumulasi minyak untuk mengantisipasi kenaikan harga di akhir tahun, mengingat permintaan akan melonjak menjelang akhir tahun terkait musim dingin. "Dalam kondisi seperti, harga saham komoditas masih akan berfluktuasi," tuturnya.
Sedangkan untuk jangka menengah, Djoko merekomendasi untuk mengkoleksi saham perbankan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Hal ini disebabkan pertumbuhan kredit yang tinggi dengan angka kredit macet yang relatif rendah.
Selain itu, saham lain yang direkomendasi untuk jangka menengah adalah saham PT Astra Internasional (ASII). Menurutnya, saham produsen kendaraan bermotor ini bisa diuntungkan dengan tren minyak yang terus melemah.
Pasalnya, dengan harga minyak yang turun, akan ada peningkatan penggunaan BBM. Hal ini bagus bagi ASII karena akan mempengaruhi produksi mobil, berlanjut pada naiknya konsumsi mobil.
Pada penutupan perdagangan saham kemarin, IHSG anjlok 43,052 poin (1,99%) menjadi 2.116,000. Perdagangan saham mencatat transaksi 55.891 kali, dengan volume 2,114 miliar unit saham, senilai Rp 3,524 triliun. Sebanyak 41 saham naik, 164 saham turun dan 43 saham stagnan.
Saham-saham yang kemarin turun harganya antara lain, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.400 menjadi Rp 12.900, PT Indo Tambangmegah Raya (ITMG) turun 1000 menjadi Rp 26.000, PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 250 menjadi Rp 4.800, serta PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) turun Rp 250 menjadi Rp 1.800.
Demikian pula PT Gas Negara (PGAS) turun Rp 150 menjadi Rp 2.425, PT Bank Damnamon (BDMN) turun Rp 200 menjadi Rp 5.300, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) turun Rp 40 menjadi Rp 1.330 dan PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 75 menjadi Rp 2.850 dan PT Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 75 menjadi Rp 3.300.
Sedangkan saham-saham yang mencatat kenaikan harga adalah, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 150 menjadi Rp 6.400, PT Astra Internasional (ASII) naik Rp 100 menjadi Rp 21.300 dan PT Semen Gresik (SMGR) naik Rp 25 menjadi Rp 4.100, serta PT Bank Panin (PNBN) naik Rp 10 menjadi Rp 970. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.