INILAH.COM, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis ini (4/9) sepertinya masih digelayuti awan akibat redupnya saham-saham komoditas dan juga sentimen kurang segar dari Wall Street berakhir mixed di tengah lesunya pasar kemarin.
Tak hanya BEI yang akan mengalami tekanan dari berjatuhannya harga saham-saham tambang dan komoditas seiring dengan terus melemahnya harga minyak dunia yang kini berada di kisaran US$ 109 per barel. Wall Street kemarin juga mengalami hal saham setelah saham-saham komoditas berguguran.
Departemen Perdagangan AS memberikan sedikit kabar baik dengan menyebutkan permintaan untuk produk manufaktur meningkat 1,3% pada Juli. Angka itu lebih tinggi dari perkiraan analis yang mematok 0,8%.
Namun, para pelaku pasar kemudian terpukul dengan kabar melemahnya penjualan mobil pada Agustus, ditambah lagi dengan munculnya pernyataan The Fed bahwa secara nasional ekonomi AS sedang lesu darah.
Tak hanya itu, investor juga dibuat kebat kebit dengan kabar sektor teknologi dan industri juga gontai.
Dengan kondisi itu, indeks Dow Jones masih menguat 15,96 poin menjadi 11.532,88. Namun, indeks Standard & Poor's 500 harus turun 2,60 menjadi 1.274,98, dan indeks Nasdaq jatuh 15,51 menjadi 2.333.73.
Untuk BEI, melemahnya saham-saham komoditas yang selama ini selalu menjadi pendorong laju penguatan indeks berkat kapitalisasinya yang amat besar di lantai bursa, jelas akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan indeks harga saham.
Indeks baru akan terselamatkan jika sejumlah investor mau melakukan aksi jangka pendek terhadap saham-saham berbasis tambang dan komoditas, apalagi harga sahamnya sudah cukup menggiurkan untuk dibeli menyusul pelemahan dalam beberapa hari terakhir.
Saham-saham tambang yang masih bisa dikoleksi, meski hanya untuk jangka pendek, misalnya Bumi Resources (BUMI), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG).
Selain itu, ada sejumlah saham unggulan yang mampu menahan indeks dari kemerosotan lebih dalam, seperti Astra International (ASII), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), dan Indosat (ISAT).
Sementara itu, meski ada peluang saham-saham perbankan menguat, tapi belum cukup kuat menopang kemerosotan indeks jika aksi jual meluas di sektor tambang dan komoditas.
Pada penutupan perdagangan saham kemarin, IHSG anjlok 43,052 poin (1,99%) menjadi 2.116,000. Perdagangan saham mencatat transaksi 55.891 kali, dengan volume 2,114 miliar unit saham, senilai Rp 3,524 triliun. Sebanyak 41 saham naik, 164 saham turun dan 43 saham stagnan.
Saham-saham yang melemah kemarin antara lain, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.400 menjadi Rp 12.900, PT Indo Tambangmegah Raya (ITMG) turun 1000 menjadi Rp 26.000, PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 250 menjadi Rp 4.800, serta PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) turun Rp 250 menjadi Rp 1.800.
Selain itu PT Gas Negara (PGAS) yang turun Rp 150 menjadi Rp 2.425, PT Bank Damnamon (BDMN) turun Rp 200 menjadi Rp 5.300, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) turun Rp 40 menjadi Rp 1.330 dan PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 75 menjadi Rp 2.850 dan PT Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 75 menjadi Rp 3.300.
Sementara saham-saham yang menguat adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 150 menjadi Rp 6.400, PT Astra International (ASII) naik Rp 100 menjadi Rp 21.300 dan PT Semen Gresik (SMGR) naik Rp 25 menjadi Rp 4.100, serta PT Bank Panin (PNBN) naik Rp 10 menjadi Rp 970.[L2]