INILAH.COM, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun drastis tertekan merosotnya harga minyak yang menyeret anjlok saham komoditas. Sentimen negatif juga datang dari keputusan BI yang menaikkan suku bunga BI rate 25 basis poin.
Pada penutupan perdagangan saham Kamis (4/9) IHSG meluncur drastis 40,766 poin (1,93%) menjadi 2.075,234. Indeks LQ-45 turun 11,2 poin (2,56%) menjadi 425,961 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 8,381 poin (2,48%) menjadi 329,833.
IHSG pada awal perdagangan hari ini dibuka melemah 1,35% di level 2.087 dan terus merosot hingga sesi siang berada di level 2.070. Anjloknya harga minyak di bawah level US$ 110 per barel terus menekan saham sektor komoditas seperti pertambangan batubara dan energi alternatif seperti perkebunan.
"Terpicu melemahnya harga minyak dunia, investor melakukan aksi jual atas saham komoditas sehingga indeks saham turun hampir 2%," ujarnya analis Sarijaya Hasbi Sukaton.
Pada penutupan perdagangan dini hari tadi, harga minyak mentah light turun 36 sen menjadi US$ 109,35 per barel. Sementara jenis Brent turun tipis 28 sen ke level US$ 108,06 per barel. Minyak sempat menyentuh level terendah di US$ 107,22, merosot lebih dari US$ 40 dari catatan rekor tingginya di US$ 147,27 pada 11 Juli lalu.
Turunnya harga minyak juga memicu penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya, berlanjut pada penurunan sebagian besar indeks di bursa Asia. Indeks Nikkei Jepang turun 131,93 poin menjadi 12.557,66, level terendah sejak 31 Maret lalu. Hal ini dipicu anjloknya saham sektor teknologi akibat turunnya permintaan barang berbasis teknologi menyusul melemahnya ekonomi global.
Indeks Kospi di bursa Korea turun 0,03% pada level 1.426,43 setelah sempat melemah di level 1.409,33 dipicu merosotnya sektor teknologi. Kendati demikian sektor perbankan terpantau mengalami kenaikan. Selain itu, indeks STI di bursa Singapura turun 2,63%, dan indeks di bursa Taiwan turun 2,62%.
Adapun indeks Shanghai Composite di bursa China naik 0,74 poin (0,03%) pada level 2.277,41 akibat technical rebound setelah tiga hari terakhir mengalami penurunan. Sedangkan indeks Hang Seng di bursa Hong Kong turun 0,7% pada level 20.432,51 menguat dari level terendahnya 20.356,51.
Di sisi lain, lanjut Hasbi, kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,25%, menambah sentimen negatif indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Terutama kekhawatiran tertekannya sektor perbankan akibat naiknya biaya dana perbankan dan timbulnya potensi peningkatan angka kredit macet (NPL).
"Namun, kenaikan BI rate ini sebenarnya adalah sentimen kedua yang tidak berimbas terlalu banyak pada pasar, karena sudah diprediksi sebelumnya," ulasnya.
Perdagangan saham di lantai bursa mencatat transaksi 53.034 kali, dengan volume 1,937 miliar unit saham, senilai Rp 3,284 triliun. Sebanyak 54 saham naik, 129 turun dan 57 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya adalah PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 1.250 menjadi Rp 24.600, PT Astra International (ASII) turun Rp 750 menjadi Rp 20.550, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 700 menjadi Rp 12.200, PT United Tractors (UNTR) turun Rp 300 menjadi Rp 10.100, dan PT Telkom (TLKM) turun Rp 250 menjadi Rp 7.550.
Juga saham PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 175 menjadi Rp 4.625, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 100 menjadi Rp 6.300, PT Bank Panin (PNBN) turun Rp 60 menjadi Rp 910, dan PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 50 menjadi Rp 2.800. Saham PT Timah (TINS) juga turun Rp 50 menjadi Rp 2.150, PT AKR Corporindo (AKRA) turun Rp 30 menjadi Rp 1.320 dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 25 menjadi Rp 2.350.
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 100 menjadi Rp 16.750, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 25 menjadi Rp 3.325, dan PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) naik Rp 10 menjadi Rp 840. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !