INILAH.COM, Jakarta Indeks saham Jumat (5/9) masih akan terkoreksi. Faktor harga minyak mentah masih menjadi isu yang menekan pergerakan bursa. Namun sederet saham masih layak koleksi. UNVR, TLKM, ASII, BBCA, atau BBRI, misalnya.
Analis Credit Lyonnais Securities Asia (CLSA), Wilianto Ie mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini masih akan terus berfluktuasi terimbas sentimen harga minyak mentah. Pasar berekspektasi harga minyak terus turun hingga di bawah US$ 100 per barel. "Ini berarti masih akan ada penurunan lagi sekitar US$ 30 per barel," jelas Wilianto, semalam.
Di sisi lain, sektor infrastruktur dan perbankan masih berpotensi melemah dalam jangka pendek. Penyebabnya, sentimen eksternal seperti resesi ekonomi di AS dan ketatnya likuiditas di pasar global. Alhasil, saham konsumer menjadi sulit bergerak.
"Padahal, saham sektor ini seharusnya bisa bergerak di tengah anjloknya saham komoditas," ujarnya.
Global tightening ditunjukkan dengan adanya bank-bank yang masih menawarkan suku bunga tinggi. Namun, lanjutnya, tren kenaikan suku bunga perbankan tampaknya sudah mulai berhenti.
Hal ini diawali dengan bank sentral Eropa dan Inggris yang mulai menahan tingkat suku bunganya. Menurut Wilianto, bank sentral di negara lain sudah mulai menyadari bahwa pelambatan ekonomi dan likuiditas yang ketat tidak bisa dilawan dengan menaikkan suku bunga. "Hal ini cukup menenangkan karena likuiditas ketat akan berakhir," ulasnya.
Sebenarnya, sentimen negatif di bursa Indonesia banyak disebabkan kecilnya market share domestik, terutama dibandingkan pasar bursa negara kawasan. Alhasil, terkoreksinya bursa regional akan berpengaruh pada bursa lokal.
Misalkan saja anjloknya bursa Korea Selatan yang dipicu turunnya nilai ekspor akan berimbas pada Bursa Efek Indonesia (BEI). "Padahal, kondisi ekonomi Indonesia sama sekali berbeda dengan Korea. Rasio ekspor Indonesia terhadap GDP (growth domestic product) relatif rendah," jelasnya.
Wilianto menyarankan investor untuk menghindari saham kategori spekulatif dan mencari saham yang jelas daya tahannya (defensive stock). Saham defensif adalah saham yang pergerakan harganya relatif stabil dengan pertumbuhannya moderat. "Yang termasuk kategori ini adalah saham PT Unilever (UNVR), PT Telkom (TLKM) dan PT Astra International (ASII)," ucapnya.
Sementara untuk sektor perbankan, investor masih bisa mengkoleksi saham yang mempunyai kapitalisasi pasar besar seperti PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). "Pasalnya, dalam situasi likuiditas ketat, bank dengan kapitalisasi pasar kecil sulit menarik dana karena akan meningkatkan cost of fund mereka," tandasnya.
Di sisi lain, analis Sarijaya Hasbi Sukaton mengatakan, meski BI menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,25%, saham perbankan masih layak untuk dikoleksi investor.
Menurutnya, selain sudah diprediksi pasar sebelumnya, kenaikan ini menunjukkan kepedulian BI terhadap tingginya inflasi di Indonesia. "Dapat dilihat pada perdagangan kemarin, dimana sektor perbankan hanya mengalami penurunan tipis dibandingkan sektor komoditas," ujarnya.
Pada penutupan perdagangan saham kemarin, IHSG meluncur drastis 40,766 poin (1,93%) menjadi 2.075,23. Adapun perdagangan saham di lantai bursa mencatat transaksi 53.034 kali, dengan volume 1,937 miliar unit saham, senilai Rp 3,284 triliun. Sebanyak 54 saham naik, 129 saham turun dan 57 saham stagnan.
Saham-saham yang kemarin turun harganya adalah PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 1.250 menjadi Rp 24.600, PT Astra International (ASII) turun Rp 750 (Rp 20.550), PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 700 (Rp 12.200), PT United Tractors (UNTR) turun Rp 300 (Rp 10.100), dan PT Telkom (TLKM) turun Rp 250 (Rp 7.550).
Juga saham PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 175 (Rp 4.625), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 100 (Rp 6.300), PT Bank Panin (PNBN) turun Rp 60 (Rp 910), dan PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 50 (Rp 2.800). Saham PT Timah (TINS) juga turun Rp 50 menjadi Rp 2.150, PT AKR Corporindo (AKRA) turun Rp 30 (Rp 1.320) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 25 (Rp 2.350).
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 100 menjadi Rp 16.750, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 25 (Rp 3.325), dan PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) naik Rp 10 (Rp 840). [E1]
Sementara bursa regional kemarin didominasi penurunan. Indeks Nikkei Jepang turun 131,93 poin menjadi 12.557,66. Indeks Kospi Korea turun 0,03% pada level 1.426,43. Selain itu, indeks STI Singapura turun 2,63%, dan indeks bursa Taiwan turun 2,62%. Adapun indeks Shanghai Composite di bursa China naik 0,74 poin (0,03%) pada level 2.277,41. Sedangkan indeks Hang Seng di bursa Hong Kong turun 0,7% pada level 20.432,51. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !