INILAH.COM, Jakarta Pelan tapi pasti, dolar AS terus menguat. Investor kini dianjurkan untuk menjauhi saham. Kendati begitu, pasar modal masih tetap bergairah. Emiten dengan orientasi ekspor masih bisa diandalkan.
Ketika penguatan dolar terasa bagai hantu yang menakutkan di pasar modal, saham mana yang bisa dijadikan incaran? Pertanyaan yang sulit, memang. Seorang analis mengaku gamang menentukan pilihan. Alih-alih memberikan rekomendasi atas saham yang dianggap jagoan, ia justru menyarankan investor untuk sementara keluar gelanggang.
Menurut analis tadi, sebenarnya bukan hanya penguatan dolarnya itu sendiri yang dirasa sangat menakutkan, tapi juga dampak lanjutannya. Maklum, penguatan dolar biasanya merupakan faktor yang paling kuat mendorong inflasi.
Kalau inflasi itu menguat, maka biasanya suku bunga simpanan juga akan terangkat. Kalau sudah begitu, perhitungan investasi berbasis saham tentu harus dipikirkan kembali. Namun, itu juga sulit dilakukan. Sebab, perkiraan atas kenaikan inflasi dan suku bunga tadi juga belum jelas benar.
Karena itu, analis tersebut lalu menganjurkan investor memindahkan dulu duitnya ke keranjang investasi yang lain. Di masa-masa begini, katanya, investasi berupa reksadana pasar uang akan lebih layak menjadi pilihan. Deposito bank juga bias jadi alternatif lain.
Tapi, apa benar tidak ada lagi saham yang menggoda di saat-saat sekarang? Sebenarnya saham-saham yang menggoda tetap ada. Soalnya, ada sejumlah emiten yang bisa meraih banyak pemasukan dengan kenaikan dolar. Maksudnya, mereka itu adalah emiten yang berorientasi ekspor. Tapi, bahan baku produksinya harus berasal dari pasar domestik. Dan akan lebih bagus lagi kalau ekspornya ditujukan ke pasar Amerika.
Maklum, belum lama ini OECD (organisasi yang beranggotakan 30 negara maju) mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa perekonomian Amerika tahun ini akan tumbuh 1,8%. Perkiraan ini lebih tinggi dari prediksi bulan Juni lalu yang hanya 1,2%.
Masalahnya, tak banyak emiten yang produknya sebagian besar di pasarkan ke Amerika. Tapi saham perusahaan tekstil, perkebunan, dan pertambangan mungkin bias jadi pilihan. [I4]