INILAH.COM, Jakarta - International Data Corporation (IDC) 2007 meliris 84% program software di komputer di Indonesia tidak berlisensi alias bajakan. Angka ini hanya turun 1% dari 2006 yang mencapai 85%. Namun industri software lokal terus mendobrak.
Industri software lokal berperan penting dalam upaya Indonesia untuk keluar dari 10 besar negara dengan angka pembajakan tinggi di dunia. Tindakan pembajakan yang dilakukan pada 2007 membuat potensi kerugian yang diderita industri software Indonesia mencapai US$ 411 juta atau Rp 3,8 triliun.
Kondisi ini tidak membuat ciut dua industri piranti lunak (software) lokal yaitu PT Andal Software Sejahtera dan PT Zahir Internasional. Anggota Business Software Alliance (BSA) ini optimistis dapat mencapai pertumbuhan usaha 50-100 % tahun depan.
Direktur Zahir International, Muhamad Ismail, mengatakan optimisme itu cukup realistis setelah Zahir bergabung dengan BSA sejak 1 Juli 2008 lalu. Sebab upaya BSA dan Kepolisian untuk menekan penggunaan software bajakan belakangan diyakini memberikan dampak positif.
Hingga akhir tahun ini, kata dia, Zahir menargetkan pertumbuhan usaha di atas 50%. Sebelum bergabung dengan BSA pertumbuhan uaha Zahir hanya sekitar 30%. Dengan pertumbuhan sebesar ini, Zahir merasakan kehilangan opportunity revenue akibat tindakan pembajakan.
Direktur dari PT Andal Software Sejahtera Indra sosrodjojo juga mengakui pertumbuhan yang signifikan sejak bergabung menjadi anggota BSA Indonesia dua tahun lalu. Indra menyatakan, pertumbuhan usahanya sejak tahun lalu hingga semester pertama tahun ini sudah di atas 50%.
"Perkembangan usaha baik. Bahkan tahun depan, kami mentargetkan pertumbuhan usaha dua kali lipat atau 100%," katanya. PT Andal adalah perusahaan software lokal. Produknya ditujukan untuk pasar perusahaan dengan harga bervariasi mulai Rp 50 juta.
Sementara Perwakilan BSA Indonesia Donny A Sheyoputra menjelaskan, tahun ini BSA bakal menerima satu anggota lagi dari perusahaan software lokal. Dengan demikian tahun ini ada dua perusahaan lokal yang menjadi anggota BSA Indonesia.
Donny berharap dengan makin banyaknya perusahaan yang menjadi anggota BSA, angka pembajakan di Indonesia bisa menurun. Apalagi BSA bersama pemerintah dan Polri senantiasa melakukan upaya penegakan hukum UU Hak Cipta. Ditambah lagi kepedulian masyarakat juga meningkat dengan program sosialisasi yang dilakukan BSA Indonesia.
Untuk upaya penegakan hukum, hingga kini BSA sudah menjalin nota kesepahaman dengan tiga Kepolisian Daerah (Polda), yakni Polda Jawa Timur, Polda Kepulauan Riau, dan Polda Banten.
"Pada 2007, saya sempat estimasi angka pembajakan bisa turun 2-3%, tapi ternyata hanya 1% sehingga membawa Indonesia di posisi 12. Saya tidak bisa memprediksi penurunan angka pembajakan tahun ini. saya hanya berharap angka pembajakan bisa ditekan lebih baik lagi dari 2007 sejak makin tumbuhnya kesadaran atas kekayaan intelektual."
Donny menjelaskan, BSA selalu berusaha mendidik masyarakat di Indonesia agar tidak mengunakan software bajakan. BSA akan selalu mendorong penggunaan software berlisensi dalam kegiatan bisnis sehari-hari. Apalagi kegiatan pembajakan bisa mematikan kreativitas industri software lokal.
"Pembajakan juga menyebabkan kami kesulitan mencari sumber daya manusia yang andal di industri software. Sebab para lulusan IT lebih suka menjadi pedagang komputer atau bekerja di perusahaan asing," tegasnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !