Senin, 28 Mei 2012 | 12:42 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ada Predator di Parpol Islam
Headline
Lili Romli - persepektifbaru.com
Oleh: Ahluwalia & Hery Nugroho
web - Senin, 8 September 2008 | 13:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta Basis konstituen tradisional membuat partai politik Islam sulit bergerak. Mereka bersaing sesamanya. Saling tikam, saling tusuk. Jadi predator satu sama lainnya. Padahal, orientasi politik umat sudah berbeda.
Parpol-parpol Islam, pada Pemilu 2009, diyakini akan menghadapi masalah dan tantangan berat. Salah satunya karena di antara mereka akan bersaing sengit dan saling tikam, menjadi predator satu sama lain.
Kondisi memilukan itu bisa terjadi karena sejatinya parpol-parpol Islam tak memiliki diferensiasi program dan agenda yang kuat bagi rakyat. "Apalagi mereka hanya mengandalkan aspirasi dari basis konstituen yang tradisional. Mereka tak mampu menembus batas di luar komunitas Islam yang lebih luas,'' kata pengamat politik Airlangga Pribadi dari Unair, Surabaya.
Parpol Islam menjelang pemilu 2009 masih jadi alternatif, meski mungkin melemah. Dari 34 partai politik yang lulus verifikasi awal KPU, misalnya, enam di antaranya merupakan parpol Islam. Dari keenam parpol Islam tersebut, empat di antaranya parpol Islam lama, yaitu PPP, PKS, PBB, dan PBR. Sedangkan dua lainnya merupakan parpol Islam pendatang baru, yaitu PMB dan PKNU.
Dengan persaingan antarparpol Islam itu, pengamat politik Lili Romli melihat, tantangan untuk mendulang suara menjadi berlipat sulitnya. Sejumlah faktor dilihatnya sebagai penyebab betapa beratnya perjuangan parpol Islam pada Pemilu 2009 mendatang.
Pertama, di kalangan umat Islam telah terjadi perubahan orientasi dalam pandangan politiknya. Umat Islam tidak lagi melihat parpol Islam sebagai representasi keislaman. Mereka lebih melihat sejauh mana suatu partai menerapkan nilai-nilai keislaman.
Kedua, mitos politik kuantitas. Adanya pandangan bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dengan serta merta mereka akan memilih partai Islam. Ternyata mitos tersebut tidak sampai pada realitas. Sejarah dari pemilu ke pemilu membuktikan bahwa dukungan umat Islam terhadap parpol Islam kecil.
Ketiga, tidak semua umat Islam bersifat ideologis. Artinya bahwa umat Islam tidak memiliki pandangan yang sama bahwa Islam adalah sebuah ideologi. Dengan Islam sebagai ideologi, maka diperlukan alat perjuangan melalui pembentukan partai politik Islam. Ternyata umat Islam tidak memiliki pandangan seperti itu.
Dengan gambaran seperti itu, bagaimana prospek parpol Islam pada Pemilu 2009? Apakah ada peluang bagi parpol Islam untuk mendulang suara dari pemilih non-Islam?
Merujuk survei Indo Barometer pada Juni 2008 lalu, ternyata prediksi perolehan parpol Islam masih relatif kecil. Dalam survei tersebut, perolehan PKS pada posisi 7,2%, sementara PPP pada posisi 2,3%. Jika survei Indo Barometer ini bisa menjadi salah satu patokan, maka parpol Islam dalam menghadapi Pemilu 2009 masih sangat berat.
Selain itu, seperti juga pada Pemilu 2004, pada Pemilu 2009 nanti di antara parpol Islam akan menjadi predator sesamanya. Artinya, bila salah satu parpol Islam suaranya naik, pada saat yang sama parpol Islam lainnya akan menurun jumlah suaranya. Ini terjadi karena ceruk yang diperebutkan oleh parpol-parpol Islam tidak bertambah, bahkan mungkin berkurang karena berpindah mendukung partai nasionalis dan pluralis. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.