INILAH.COM, London - West Ham United memiliki keuntungan tersendiri dalam perburuan Michael Laudrup dengan Spartak Moskow. Laudrup bisa saja mengalami kesulitan hidup dengan keluarganya di Rusia.
Laudrup, mantan gelandang menyerang Denmark pada era kejayaan tim Dinamit, mengakui ada dua persoalan yang harus dipikirkannya sebelum menerima tawaran klub raksasa Rusia itu. Pertama, adalah masalah yang berkaitan dengan sepak bola itu sendiri. Baginya, penting memengerti timnya seperti apa yang tim bagaimana yang dia inginkan.
"Kedua, ada beberapa pertanyaan yang penting untuk keluarga saya. Seperti apa kehidupan di Rusia," katanya.
Soal tim sendiri, Laudrup mengenal Spartak sebagai klub terbesar dan paling populer di Rusia. Spartak diibaratkan seperti Real Madrid atau Barcelona di Spanyol.
"Saya juga tahu, dalam beberapa tahun terakhir mereka tak memenangkan banyak (gelar) seperti yang diharapkan suporternya," kata mantan pelatih Getafe itu.
Tetapi, ada juga yang menguntungkan bagi Laudrup. Pendukung Rusia menginginkan Spartak tampil dengan sepak bola menyerang dan menghibur.
"Suporter menuntut Spartak main menyerang dan menghibur. Saya terbiasa dengan gaya seperti itu dan sepenuhnya mengerti," katanya.
Kecuali Laudrup, West Ham yang baru saja berpisah dengan Alan Curbishley, juga menempatkan Gianfranco Zola, Roberto Donadoni, dan Slaven Bilic sebagai kandidat pelatih barunya.
Sejumlah nama, sebelumnya, juga sempat disebut-sebut akan menggantikan Curbishley. Mereka yakni Gerard Houllier, John Collins, dan Morten Olsen. Tapi, tiga nama ini diabaikan klub berjulukan The Hammers itu. [I4]