INILAH.COM, Jakarta - PKS sempat membanding-bandingkan nomor urut 8 yang didapatnya dengan nomor urut 9 yang dimiliki PAN. PAN membalasnya dengan sindiran, PKS kok percaya klenik. Eh... kemarin giliran PAN yang melaunching angka 9 pada tanggal 9 bulan 9. Ada political magic?
Masih ingat ketika PKS melaunching nomor urut 8 pada tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 di Parkir Timur Senayan? Saat itu, Ketua TPPN PKS Anis Matta sempat membanggakan betapa sempurnanya lingkaran di angka 8. Berbeda dengan angka 9 yang tidak sempurna. PAN yang merasa tersindir, langsung memberikan sentilan cukup menohok. PKS kok percaya klenik!
Terlepas dari klenik atau tidak, semua partai berusaha menyosialisasikan nomor urutnya dengan daya tarik tersendiri. Semisal PDIP yang melaunching nomor urut 28 pada tanggal 28 bulan 8 tahun 2008. Bahkan Partai Golkar yang pertama kali melakukan sosialiasi menarik tersebut. Nomor urut 23 Golkar dilaunching pada 23 Juli 2008, tepat pukul 02.30 siang WIB. Diharapkan angka 23 dapat membawa kembali kejayaan Golkar dan memenangkan Pemilu 2009.
Ternyata, PAN yang sempat menyentil PKS percaya nomor klenik juga melakukan hal yang sama. Partai matahari biru itu ikut-ikutan menyosialisasikan nomor 9 pada tanggal 9 bulan 9. Sampai-sampai pemilihan waktunya dipilih pukul 15.30 WIB, jika dijumlahkan, sama dengan 9. Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir bahkan sempat mengakui, nomor urutnya sempat ada yang menawar. Harganya, bisa sampai Rp 8 miliar.
Menurut dosen Ilmu Pemerintahan UGM Sigit Pamungkas, apa yang dilakukan partai mengenai nomor urutnya termasuk political magic. Biasanya metode ini dipilih elit politik agar pemilih berminat.
"Contohnya nomor 2 akan membawa keberuntungan. Karena dikaitkan dengan irasional, secara tidak langsung orang akan terpengaruh karena pemikiran orang bahwa nomor itu nomor wahyu yang akan membawa keberuntungan," papar Sigit kepada INILAH.COM, Rabu (10/9).
Hal ini dinilai Sigit tidak akan memberi kedewasaan berpolitik. Begitu juga yang disampaikan pengamat politik LIPI, Lili Romli. Pimpinan partai memanfaatkan kepercayaan masyarakat Indonesia yang masih berbau klenik.
"Tapi buat pendidikan politik, ini sama sekali tidak baik, karena mengaitkan keberuntungan dengan nomor. Ini sangat irasional. Seharusnya parpol memberikan pendidikan yang bagus pada masyarakat. Bukan seperti itu, karena ini sudah nyerempet ke klenik," jelas Romli.
Meski begitu, Romli menilai percaya keberuntungan angka masih wajar jika buat sosialisasi saja. "Tapi buat mengeramatkan, terutama bagi partai-partai berbasis agama, ini tidak bagus buat pencitraannya," ujar dia.
"Seharusnya para elit politik sadar, mendingan dengan pendidikan politik yang bagus akan menghasilkan suatu kualitas yang bagus juga kan?" imbuhnya. Jadi, masih percaya angka hoki?[L8]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !