Untuk Abi Ashna, terlepas dari apapun suku, ras dan agamamu, pertanyaanmu mewakili semua cara berpikir kita yang masih sakit, aku sakit, engkau sakit, kita semua sakit.
Tulisan Abi Ashna di citizen journalism portal inilah.com, yang menyebutkan, "Keberadaan partai politik tentu saja untuk mendapatkan kekuasaan. Apa ada yang salah dengan kekuasaan? Setahu saya yang salah itu adalah menyalahgunakan kekuasaan. Kalau kekuasaan itu digunakan untuk menegakkan sesuatu yang belum adil menjadi lebih adil, dengan kekuasaan mengatur kehidupan yang belum sejahtera menjadi lebih sejahtera bagi semua lapisan masyarakatnya, lantas apa yang salah dengan kekuasaan?"
Apa yang salah dengan kekuasaan, pertanyaan saya adalah apa benar kita berjuang dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan lalu memiliki keinginan tunggal untuk berbuat keadilan dan kesejahteraan. Apakah Nabi Muhammad SAW berjuang untuk meraih kekuasaan dulu, baru berbuat adil dan menciptakan kesejahteraan bagi bangsa dan negaranya?
Mari kita baca ulang sejarah Nabi, beliau tidak ada kepentingan terhadap kekuasaan, karena tanpa kekuasaan beliau sudah berbuat dan menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi kaumnya. Baru kemudian masyarakat, bangsa dan negaranya yang mengangkat beliau menjadi pemimpin.
Jika kekuasaan dulu, baru berbuat adil, kemudian kekuasaan dulu baru menciptakan kesejahteraan, apa yang lantas terjadi jika semua orang berpikir seperti itu, pertama-tama akan timbul kekacauan karena semua orang akan berbuat segala sesuatu untuk meraih kekuasaan dulu, persis yang terjadi saat ini.
Lalu setelah berkuasa, apakah Abi Ashna bisa memberikan jaminan bahwa mereka akan berbuat adil dan sejahtera, adakah jaminan untuk itu? Kekuasaan tanpa kesadaran.
Lalu kalimat Abi Ashna, "Kenapa Anda pesimis bahwa kekuasaan yang diraih akan dapat mensejahterakan dan memberi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia apapun agama dan sukunya meskipun PKS berlandaskan satu agama."
Di tengah kemajemukan bangsa ini, di tengah berbagai macam aliran kepercayaan dan agama, dengan berlandaskan satu agama mendirikan partai politik, adalah perbuatan tidak adil.
Dari awal keberadaan parpol berlandaskan agama sudah menciptakan ketidakadilan, lalu apa yang akan kita harapkan di kemudian hari ketika mereka berkuasa?
Pernahkan kita mendengar mereka bersuara bulat menolak aksi kekerasan yang terjadi pada orang-orang yang tidak seumat? Bisakah mereka mengucapkan semua agama benar, semua ajaran benar dan semua nabi benar?
Jawabannya adalah tidak bisa, karena bila mereka melakukan hal itu, sementara landasan mereka berpartai menggunakan ajaran salah satu agama, fondasi keberadaan mereka akan gugur dengan sendirinya.
Promosi, propaganda-atau apa pun sebutannya tentang ajaran salah satu agama menjadi tidak relevan bila ajaran semua agama betul, benar dan bertujuan satu serta sama.
Lalu mengenai kalimat yang ditulis Abi Ashna, "Jika Anda membaca sejarah Islam, maka kondisi itu pernah diraih dalam kepemimpinan Islam dimana masyarakat muslim dan non muslim hidup berdampingan dengan damai, bahkan pemerintah Islam menjadi pelindung bagi umat non muslim."
Tidak ada dalam sejarah dunia manapun ada sebuah dinasti seperti Sriwijaya yang mampu bertahan lebih dari 800 tahun lamanya, di tengah-tengah kemajemukan masyarakatnya karena perekatnya adalah budaya bukan agama. Silahkan baca ulang sejarah bangsa Anda sendiri.
Kemudian tentang kalimat yang ditulis Abi Ashna, "Terlalu bodoh jika hanya berbeda pendapat kita menjadi terpecah. Silahkan kita jalani apa yang kita yakini, namun sekali lagi harus tetap dalam kerangka membangun bangsa. Terus buka wawasan dan tetap hargai pihak lain, meskipun pendapatnya berseberangan dengan kita. Negara ini butuh karya nyata, bukan sekedar retorika."
Agenda Islamisasi adalah agenda yang dapat memecah belah bangsa. Penolakan terhadap hal itu justru dapat mencegah terjadinya perpecahan. Di atas segalanya untuk mengabdi pada negeri ini, kekuasaan tidak membutuhkan orang yang mengabdi tanpa pamrih.
Nur Hotwahid
nurhotwahid@gmail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !