INILAH.COM, Bandung - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta seluruh jajaran TNI untuk terus mengembangkan pemikiran strategis pertahanan nasional menghadapi tantangan abad ke-21.
"Ikuti terus perkembangan dunia termasuk kemungkinan ancaman, dalam mengkaji itu jangan menggunakan pola pikir yang salah," kata Presiden saat berpidato dalam seminar nasional tentang pertahanan yang berlangsung di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung, Jumat (19/9).
Lebih lanjut dikatakan Kepala Negara, jajaran TNI dalam menganalisa potensi ancaman terhadap pertahanan nasional hendaknya tidak lagi menggunakan pola pikir saat perang dingin masih berlangsung.
"Saat ini, setidaknya dalam empat tahun terakhir, pada masa saya telah ada perubahan kemitraan strategis dengan negara lain. Namun meski demikian tidak menutup kemungkinan adanya benturan kepentingan," paparnya.
SBY juga meminta agar kebijakan dan strategi pertahanan selalu diperbaharui termasuk rencana-rencana cadangan dan juga doktrin pertahanan. Termasuk pemeliharaan kesiagaan militer. Semua satuan harus siap diturunkan dimanapun jangan hanya pasukan reaksi cepat saja.
Perkembangan teknologi juga menjadi sorotan Kepala Negara. Ia menilai dengan kondisi saat ini perang tidak hanya sekedar mengandalkan perang konvensional. Kekuatan pertahanan minimum yang cukup, tentunya dengan anggaran minimal yang cukup.
Presiden juga menyinggung perubahan lingkungan internasional yang terus terjadi saat ini, selain masalah semakin terbatasnya ruang dan sumber daya alam di bumi juga pola politik internasional. Karena itu penting memiliki kemampuan analisis strategis yang baik sehingga perkiraan kita tepat.
Untuk menjamin pertahanan negara yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, Presiden Yudhoyono menyatakan Indonesia harus memiliki kemandirian dalam kemampuan perangkat militer sehingga tidak tergantung pada negara lain.[*/L8]