inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Daripada Konflik, Contoh PKS!

Headline
Mohamad Qodari - inilah.com/Abdul Rauf
Oleh:
Sabtu, 20 September 2008 | 19:39 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Menjelang pesta demokrasiyang akan digelar pada 2009 mendatang, beberapa parpol justeru berkonflik internal. Konflik tersebut seharusnya tidak perlu ada jika mekanisme partai berjalan tanpa mengutamakan ketokohan, seperti PKS.

"PKS boleh dibilang salah satu parpol yang mekanismenya berjalan jika mengacu pada pencalegan. Artinya pencalegannya tidak menimbulkan keributan seperti partai lainnya," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Mohamad Qodari, ketika berbincang dengan INILAH.COM, di Jakarta, Sabtu, (20/9).

Dikatakan Qodari, meskipun tidak bisa digeneralisir karena bervariasi, memang pencalegan menjadi salah satu titik yang paling rawan terjadinya perpecahan parpo . Tapi, ada juga parpol yang pencalegannya berjalan mulus (smooth) tanpa ada konflik seperti PKS dan PDIP.

Sedangkan PDIP, ungkap mantan peneliti CSIS ini, relatif sama. Namun, untuk partai Moncong Putih ini lebih pada ketokohan Megawati selaku ketua umum.

Menurut Qodari, konflik internal partai yang ada sekarang ini memang didasari pada banyaknya kepentingan di dalam partai. "Kalau bicara kepentingan, sekjen pasti punya kepentingan, bendaraha juga punya kepentingan, Apalagi para ketua-ketua DPP. Jadi semuanya punya kepentingan," ujar pria berkacamata ini.

Karena sebenarnya, sambung Qodari, guna melihat secara seksama konflik internal partai bisa merujuk pada kekuatan struktur partai (mekanisme partai) dan kekuatan tokoh.

"Nah, kalau PPP itu saya lebih condong masuk ke kekuatan struktur partai. Karena kita tahu, proses pencalegan PPP yang mendasari konflik itu terjadi," ujar Qodari.

Qodari justeru menyayangkan papol-parpol yang saat ini sibuk dengan permasalahan internal, seperti PKB, PPP dan Golkar. Sebab, menjelang pemilu seharusnya mereka melakukan konsolidasi bukan malah berkonflik.

"Praktis, konsolidasi tidak bisa dilakukan, karena konflik sudah muncul. Yang bisa dilakukan adalah mereka yang berkonflik melakukan lobi atau kompromi guna menghasilkan solusi terbaik," pungkas Qodari.[L8]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.