inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

SBY Dapat Julukan 'Baby Orba'

Headline
Susilo Bambang Yudhoyono - inilah.com/abdul rauf
Oleh: Samsul Hidayat
Senin, 22 September 2008 | 20:02 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pemerintahan SBY diingatkan jangan main tangkap terhadap mereka yang berbeda pendapat. Sebab gaya tersebut merupakan gaya Orde Baru. SBY yang dinilai meniru gaya tersebut pun mendapat julukan 'baby Orba'.

"Kita ingin mengingatkan pemerintah jangan melakukan kebijakan-kebijakan yang anti demokrasi. Beda pendapat saja, terus mau ditangkap, karena itu kita menjuluki baby Orba. Kita lawan, mumpung masih baby," ujar Jubir Komite Bangkit Indonesia (KBI) Adhie Massardi.

Hal ini disampaikan Adhie di Gedung PBNU, Jakarta, Senin, (22/9). Adhie menemani Ketua Umum KBI Rizal Ramli melakukan safari demokrasi dan konsolidasi dengan menemui Gus Dur. Rizal Ramli yang merupakan mantan Menko Perekonomian era Gus Dur ini juga meminta dukungan Gus Dur untuk menjadi capres. Rizal disebut bakal menjadi tersangka demo rusuh kenaikan harga BBM 24 Juni 2008.

Sejak era Orba tumbang, lanjut dia, sudah tidak ada lagi orang yang berdemonstrasi ditangkap. Kemudian terjadi kembali penangkapan terhadap orang yang melakukan demonstrasi pada era pemerintahan Megawati karena Menko Polkamnya adalah SBY.

"Kita betul-betul mau diancam ditangkap, justru kita melakukan perlawanan terhadap rezim yang zalim. Sebelum pemerintah benar-benar melakukan langkah-langkah yang anti demokrasi, kita lawan dengan melakukan konsolidasi ini.

Adhie mengaku mempunyai data yang sangat jelas kalau penangkapan Sekjen KBI Ferry Yuliantono merupakan penangkapan yang salah. Pihaknya hanya mencoba menghormati polisi sebagai institusi.

"Kami hanya menjadi korban dari tekanan BIN dan kita diam saja. Tapi karena sekarang sudah berlebihan, maka kita lawan dan bereaksi. Yang menarik, pembakar mobil sampai hari ini tidak pernah diusut. Kita melihat ini suatu skenario dari pemerintah seperti tragedi Malari," pungkasnya.[L3]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.