INILAH.COM, Jakarta - Penerimaan negara dari ekspor non-migas diperkirakan akan menurun dibanding 2008 sebesar 11,6%. Hal ini terjadi jika krisis finansial yang melanda Amerika Serikat tidak juga mereda.
"Kalau ekonomi Amerika masih melambat angka ini bisa bergerak turun," kata ekonom BNI Ryan Kiryanto dalam seminar bertajuk Kebijakan Ekonomi Nasional dalam meningkatkan ekspor Indonesia, Jakarta, Kamis (25/9)
Menurut Ryan, hal inilah yang juga harus diwaspadai oleh eksportir Indonesia. Pasalnya, kalau permintaan dari Amerika turun otomatis akan mempengaruhi laju ekspor ke negara tersebut.
"Jelas harus cari pasar lain, yaitu pasar non tradisional seperti Afrika, Amerika latin, Timur Tengah, atau negara ke bekas Uni Soviet," ujarnya
Menurut Ryan, negara-negara tersebut kemungkinan memiliki demand yang tinggi untuk ekspor dari Indonesia. "Tinggal bagaimana kita mendayagunakan ambassador kita yang ada di kawasan itu sebagai pemasar produk dari Indonesia," jelasnya
Ryan menjelaskan, nilai ekspor Mei 2008 menembus rekor US$ 12,90 miliar dan impor yang menembus US$ 12,82 miliar pada Juli 2008. Dengan demikian, defisit perdagangan US$ 270 juta pada Juli 2008 merupakan lampu kuning kinerja perdagangan Indonesia.
"Dulu setiap bulan kita bisa menuai surplus 10 milyar US$ 2006-2007, sekarang sudah mulai tipis, bahkan juli lalu kita defisit US$ 270 juta," jelasnya
Jika ini bergerak sampai akhir tahun, kata Ryan, dipastikan Indonesia hanya menikmati suplus itu kurang lebih US$ 15 miliar. Padahal 2006-2007 kita menikmati US$ 45 miliar.
"Sangat drop, saya tidak tahu kenapa. Mungkin ada problem struktural dilapangan sehingga ekspor tidak bisa digenjot lagi," ungkapnya. [R2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !