INILAH.COM, Jakarta - Koalisi PDIP-Golkar-PKS semakin mengkristal. Bahkan ketiga elit partai sepakat ingin membangun koalisi sebelum Pemilu 2009. Namun koalisi ketiganya dinilai masih sulit.
"Koalisi PDIP-Golkar-PKS adalah koalisi proyekisme. Mereka berkoalisi untuk mengejar proyek kekuasaan saja tanpa memikirkan kelanjutan setelah berkoalisi," kata pengamat politik UGM Sigit Pamungkas ketika berbincang dengan INILAH.COM, Jumat (26/9).
Jika koalisi ini hanya untuk mengejar kekuasaan, Sigit mengkhawatirkan akan berujung pada perpecahan politik. Sebab, biasanya setelah tujuan sudah selesai, koalisi malah renggang. Dan 2 periode pemerintahan Indonesia hasil koalisi menjadi relatif tidak efektif dan stabil.
Menurut sigit, perbedaan ideologi politik antara Islam dan nasionalis bakal menghambat koalisi itu. Karena, dalam banyak hal struktur ideologi pemilih sangat menentukan pilihan partai dan jenis konstestan yang akan menyuarakan aspirasi mereka.
Belajar dari pengalaman sirkulasi suara pemilih di Pemilu 2004. Tidak ada pemilih dari kalangan muslim seperti PKS, yang mendukung partai nasionalis. Jika merasa tidak puas, pemilih PKS akan menyebrang ke PAN, PKB dan partai sejenisnya.
"Jika elit partai gagal membangun komunikasi yang kuat di akar rumput, maka koalisi akan menimbulkan resistensi politik yang cukup tajam," imbuh Sigit.[L8]