inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Waspadai, Bahaya Ponsel

Headline
istimewa
Oleh: Vina Ramitha
Sabtu, 27 September 2008 | 10:01 WIB
INILAH.COM, Jakarta Ilmuwan AS memberi peringatan pada Kongres mengenai bahaya penggunaan telepon selular. Ada koneksi potensial antara telepon genggam dengan tumor otak. Ya, seperti hubungan rokok dan kanker paru-paru.
Para ilmuwan saat ini sedang mencari tahu seberapa bahaya efek biologi medan magnet dari telepon seluler terhadap manusia. Mereka mengingatkan agar manusia tidak mengulangi kejadian yang sama antara rokok dengan kanker paru-paru.
"Ketika itu kita menunggu bukti, kemungkinan terburuk baru mengeluarkan peringatan," ujar David Carpenter, direktur Institute of Health and Environment di University of Albany, di hadapan DPR AS.
Menurutnya, tindakan pencegahan sangat diperlukan mengingat begitu banyak risiko dari penggunaan benda ini, terutama untuk anak-anak. Direktur Institut Kanker University of Pittsburgh, Ronald Herberman, juga mengamini perkataan Carpenter.
"Sebenarnya hubungan antara telepon seluler dengan tumor otak bukan dalam jangka waktu pendek. Dalam studi tersebut tidak terdapat data penggunaan telepon seluler dalam jangka panjang," ujarnya. Banyak dari hasil studi tersebut, menyatakan penggunaan reguler sebuah telepon seluler hanya sekali seminggu.
Manusia membutuhkan 70 tahun untuk memisahkan kandungan logam lead dari cat dan bensin. Selain itu, untuk menghubungkan antara merokok dengan kanker paru-paru membutuhkan setidaknya 50 tahun. Sebab itulah, Herberman bersikeras untuk lebih banyak lagi belajar dari masa lalu. "Terutama dalam menerjemahkan bukti-bukti risiko potensial," tandasnya.
Tumor otak membutuhkan waktu puluhan tahun untuk berkembang. Baik Carpenter maupun Herberman mengingatkan komite bahwa risiko kanker otak pada anak-anak lebih besar ketimbang pada orang dewasa. Hal ini dibuktikan Herberman dengan mencontohkan model dimana penetrasi radiasi ponsel masuk lebih dalam ke otak anak berusia 5 tahun ketimbang pada orang dewasa.
Komite kemudian menyaksikan beberapa studi yang dilakukan oleh orang Eropa, terutama dari Skandinavia dimana telepon seluler pertama kali dikembangkan. Hasilnya, radiasi yang dikeluarkan oleh telepon seluler memang memiliki konsekuensi biologis.
Misalnya, sebuah studi yang dilakukan oleh spesial kanker asal Swedia, Lennart Hardell pada 2008 menunjukkan pengguna telepon seluler secara regular lebih berisiko. Dalam artian, mereka memiliki kemungkinan dua kali lebih banyak untuk mengidap tumor pada syaraf pendengaran di telinga yang sering menggunakan handset ketimbang telinga yang jarang.
Studi terpisah di Israel juga menunjukkan bahwa pengguna berat telepon seluler memiliki kemungkinan 50% lebih banyak menderita tumor pada kelenjar ludah mereka. Belum lagi studi yang dilansir Royal Society di London menemukan bahwa orang dewasa yang menggunakan telepon seluler sebelum usia 20 tahun kemungkinan mengembangkan kanker otak lima kali lebih banyak pada usia 29 tahun ketimbang yang tidak menggunakan sama sekali.
"Hanya pada sisi kepala dimana Anda menggunakannya," Carpenter kembali menerangkan. Ia merasa masalah ini sudah merupakan isu kesehatan publik yang kritis. Ada baiknya pemerintah AS mendukung riset yang lebih mendalam. Juga agar komisi komunikasi federal AS (FCC) berwenang dalam penggunaan spektrum radio untuk mereview standar mereka.
Julius Knapp yang mengepalai divisi engineering and teknologi di FCC bertanggung jawab untuk membatasi kontak frekuensi radio (RF) dari peralatan elektronik seperti telepon untuk mencegahnya membakar jaringan hidup.
"Sangat penting untuk mengerti bahwa kami bergantung pada petunjuk kesehatan, keamanan, dan agensi lingkungan pemerintah AS untuk membuat batasan-batasan tersebut," ia menjelaskan. "FCC tidak memiliki kualifikasi untuk berbicara dengan otoritas ilmu pengetahuan dalam hal efek absorpsi RF ke tubuh manusia."
"Setiap anak kini menggunakan telepon seluler. Angkanya sekitar 3 miliar penggunanya di dunia," Herberman ikut menambahkan. Seharusanya, ia berpendapat, ada semacam peringatan penggunaan seperti yang terdapat di kotak rokok. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.