INILAH.COM, Jakarta Pada hari terakhir bursa sebelum libur Lebaran, investor mengambil posisi dengan melepas portfolio sahamnya. Namun masih ada yang mencermati BUMI untuk mendapat keuntungan di saat-saat terakhir. Bagaimana peluangnya?
Pada perdagangan Senin (29/9) siang, saham PT Bumi Resources (BUMI) berada di level Rp 3.300, atau turun Rp 100 dari penutupan akhir pekan lalu di level Rp 3.400 per lembarnya. Pada awal perdagangan pagi tadi, BUMI sempat naik ke level 3.425. Turunnya harga BUMI menunjukkan dimulainya aksi profit taking.
BUMI masih berpeluang naik. Hal ini dipicu sentimen positif kesepakatan kongres AS dan Gedung Putih tentang langkah penyelamatan (bailout) senilai US$ 700 miliar. Keputusan ini membuat bursa rebound, apalagi bursa Asia pada perdagangan hari ini dibuka menguat.
Namun, merosotnya harga minyak ke level US$ 106 per barel akhir pekan lalu menjadi sentimen negatif bagi pergerakan saham emiten batubara ini. Beberapa analis pun menyatakan pendapatnya tentang potensi BUMI saat ini.
Deputy Head of Research Trimegah Securities Arhya Satyagraha memaparkan, saham BUMI hari ini berpeluang bergerak di kisaran Rp 3.225-3.400. Titik support pertama berada di level Rp 3.200 dan support kedua di level Rp 3.000 serta level resistan di level 3.600 dan 3.800. "Kami rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI," katanya.
Hal senada terungkap dalam hasil riset Samuel Sekuritas. Menurutnya, hingga kini, BUMI telah melaksanakan 25% dari target pembelian kembali sahamnya senilai Rp 834.7 miliar pada 24 September.
Buyback dilaksanakan pada harga Rp 3.800. PT Danatama Makmur bertindak sebagai broker pelaksana yang membeli 80,000 lot (40 juta unit saham) dari volume pasar hari itu sebanyak 439,309 lot. Perseroan masih akan membeli 437.21 juta unit lagi dalam rangka buyback saham tersebut.
Saat ini BUMI diperdagangkan pada price earning ratio (PER) 2008-2009 sebanyak 7 kali dan 4 kali. "Kami masih merekomendasikan buy untuk saham BUMI," ungkap Samuel.
Analis Citi Pacific Securities Hendri Effendy mengatakan, meski harga minyak merosot menyeret turun harga batubara di pasar internasional, saham perusahaan tambang masih menarik. Pasalnya, dengan harga minyak yang diperkirakan masih berfluktuasi, harga batubara punya peluang untuk menguat.
Ia juga memaparkan, di hari terakhir ini menjelang libur panjang Lebaran, lanjutnya, investor mencoba bermain jangka pendek di saham fluktuatif yang memberikan gain tinggi, yaitu saham komoditas.
Hal ini terkait likuiditas saham sektor tambang yang cukup tinggi. "Di tengah situasi seperti ini, saham sektor komoditas menjadi menarik. Saham yang bisa dikoleksi salah satunya adalah BUMI," ujarnya.
Selain itu, rencana pemerintah AS menggelontorkan dana US$ 700 miliar kepada sistem keuangannya menimbulkan spekulasi bahwa langkah itu akan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga turut memicu peningkatan permintaan minyak mentah. Apalagi ditambah meningkatnya kebutuhan minyak memasuki musim dingin sehingga harga minyak diperkirakan naik lagi.
Sementara itu, beberapa pihak memperkirakan saham BUMI masih akan tertekan hari ini, hal ini karena indikator jangka pendek masih berada dibawah moving average jangka panjangnya.
Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, saham BUMI saat ini belum direkomendasikan untuk dikoleksi. Hal ini mengingat belum jelasnya arah fundamental BUMI.
Selain itu, BUMI juga diperkirakan masih bergerak flat karena likuiditasnya sudah tipis. Saat ini investor ingin keluar pasar dalam posisi memegang cash. "Kalau untuk trading saja, BUMI masih menarik, tapi ini hari terakhir. Jadi investor sudah bersih-bersih posisi," ujarnya.
Sementara Head of Equity CIMB-BK mengatakan, saham BUMI diperkirakan masih mengalami tekanan jual. Menurut kabar yang beredar di pasar bursa, banyak saham BUMI yang dijaminkan di repo, kemudian dijual lagi.
Induk usaha BUMI, yaitu BNBR menggunakan saham BUMI untuk mencari pinjaman di tengah likuiditas ketat, terlihat dari laporan BNBR yang menyebutkan banyak saham BUMI yang dijaminkan. "Hal ini menyebabkan BUMI masih akan terus tertekan," katanya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !