INILAH.COM, Cilacap - Terpidana mati kasus Bom Bali I, Imam Samudra yakin jika dia bersama dua rekannya, Amrozi dan Mukhlas, tidak akan dieksekusi. Mereka menilai Kejaksaan Agung terlalu takut untuk mengeksekusi ketiganya.
Imam mengaku tidak terlalu memikirkan rencana eksekusi mati tersebut karena masalah kematian merupakan urusan Allah sehingga dirinya pun siap lahir batin jika eksekusi tersebut jadi dilaksanakan. Namun jika eksekusi mati tersebut dilaksanakan, Imam Samudera yakin akan ada yang membalasnya.
"Jika ada yang bunuh kami, Insya Allah akan ada pembalasan," kata Imam di hadapan wartawan seusai Salat Idulfitri 1 Syawal 1429 H di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (1/10).
Dia mengaku tidak rela jika harus menjalani eksekusi dengan cara ditembak seperti yang biasa dilakukan di negara-negara kafir. "Kami tidak pernah ridho dengan tata cara hukum Belanda," tegas dia.
Imam mengaku tidak peduli dengan konstitusi sehingga memilih berpindah tempat duduk saat pembacaan remisi bagi para narapidana penghuni LP Batu.
Sementara mengenai pesan bagi keluarga, Imam meminta keluarganya agar terus bersabar karena eksekusi tersebut tidak akan dilaksanakan. "Pesannya sabar saja, wong tidak akan pernah dieksekusi kok," yakin Imam.
Disinggung mengenai kasus Bom Bali I yang menewaskan 202 orang pada tanggal 12 Oktober 2002 itu, dia mengaku tidak menyesal. Bahkan, bangga terhadap aksi tersebut. Meski demikian, dia meminta maaf kepada umat Islam yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
"Saya tidak akan minta maaf kepada kafir, saya hanya minta maaf kepada korban muslim," ujarnya.
Ia mengatakan, Australia merupakan musuh nomor satu mereka (Imam dan kawan-kawan, red.) sehingga mereka pun enggan meminta maaf kepada korban dari negeri itu. Menurut dia, permintaan maaf akan diberikan jika Australia dan sekutunya mengakhiri peperangan dengan Mujahidin dan Taliban.
Mengenai rencana pengeboman di Legian, Bali, Imam mengakui sebagai hasil karyanya meski tidak terlalu yakin dengan kekuatan bom tersebut. "Saya yakin itu aksi kami, tapi kalau hasilnya seperti itu, Wallahu'alam," imbuhnya.
Imam Samudera mengaku hanya menggunakan dua ton karbit untuk pengemboman tersebut tetapi ternyata hasilnya setara dengan menggunakan 100 ton TNT.[*/L8]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !