INILAH.COM, Jakarta - Open house yang diadakan oleh Presiden SBY maupun pejabat lainnya saat merayakan Hari Lebaran dinilai cuma memamerkan kemewahan. Padahal masyarakat sedang terhimpit secara ekonomi. Open house malah bisa berbuah sinisme.
"Justru ini dapat menimbulkan kemewahan kecil, yang dapat menimbulkan pencitraan kurang baik dan sinisme," kata pengamat komunikasi politik Universitas Al Azhar Indonesia Muhammad Iqbal kepada INILAH.COM, Jumat (3/10).
Menurut dia, pejabat hendaknya mengelar kegiatan yang lebih konkret untuk meringankan beban rakyat. Sedangkan open house dianggap hanya sebagai tradisi biasa. Jumlah pengunjungnya juga tidak terlalu signifikan, dalam arti tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia.
"Tapi kegiatan itu kan diekspos oleh media. Jutaan mata yang melihat itu dapat membuat sinisme di tengah himpitan masyarakat secara ekonomi," jelas kandidat doktor Universitas Indonesia ini.
Open house, lanjut dia, tidak memiliki korelasi dalam menarik simpati masyarakat dalam hal kuantitas. Apabila hendak mengambil momentum Lebaran ini, pejabat seharusnya turun langsung ke jalan. Antara lain mengelar public hearing maupun menyapa masyarakat bawah.
"Kalau rakyat punya permasalahan ekonomi, pejabat maupun elit politik bisa membagi-bagi sembako. Bisa juga bersedekah atau infaq dari penghasilannya selama ini. Tapi politik uang tidak masuk ke dalam kategori ini," pungkas Iqbal.[L3]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !