INILAH.COM, Jakarta - Pengamat Politik Universitas Indonesia Arbi Sanit menilai tindakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membagi-bagikan amplop pada saat open house, baik di Istana Negara maupun di rumahnya tidak dapat diartikan politik uang. Hal ini sepanjang tujuan sosialnya jelas.
Nuansa politis, diakui Arbi, memang sangat terlihat jika yang melakukan seorang pejabat. Namun, semua tergantung bagaimana yang menyikapinya. "Politik itu sangat lebar dan luas. Semua bisa dikait-kaitkan. Itu kan seperti tradisi dan tujuannya sosial saja," kata Arbi kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (2/10).
Arbi mengatakan, tindakan sosial SBY tersebut tidak selayaknya dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat negatif. Sebab, menurutnya banyak pihak yang merasa diuntungkan dari kegiatan tersebut. Selain itu, hal tersebut juga tidak melanggar hukum.
"Itu kan membantu orang dan membagi kebahagiaan. Itu tidak dilarang. Karena semua juga bisa melakukan. Seperti Gubernur DKI juga bisa. Jadi siapa saja yang mau," katanya.
Namun Arbi tidak menyangkal, kemungkinan hal itu akan mendatangkan efek positif bagi SBY di kemudian hari, terutama menjelang Pemilu 2009.
"Ada juga fungsi politiknya. Yaitu implikasi dari ini, yakni dukungan masyarakat di politik nanti. Tapi ini kan tidak didesain. Tapi satu yang penting adalah tujuan sosialnya," tandasnya. [R2]