Minggu, 27 Mei 2012 | 01:34 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pasar AS Semakin tegang
Headline
istimewa
Oleh: Asteria
web - Jumat, 3 Oktober 2008 | 12:25 WIB
INILAH.COM, Jakarta Bursa Wall Street rontok hampir 350 poin semalam. Hal ini dipicu pesimisme tentang berlarut-larutnya pelemahan ekonomi serta kekhawatiran bahwa rencana penyelamatan sektor finansial tidak dapat menghindarkan ekonomi AS dari ancaman resesi.

Sentimen positif dari disetujuinya rencana paket bailout senilai US$ 700 miliar untuk menangani krisis finansial oleh senat AS, tidak dapat menahan keterpurukan pasar AS setelah rilisnya data-data yang menunjukkan pemburukan ekonomi AS.

Angka jobless claims di AS meningkat menjadi 3.59 juta orang pada pekan yang berakhir 20 September lalu, terbanyak sejak tahun 2003. Sedangkan pertambahan jobless claims, yaitu orang yang baru pertama kali mengajukannya, naik 497,000 orang, di atas ekspektasi sebesar 475.000.
Ini adalah jumlah tertinggi sejak serangan teroris 11 September 2001 lalu, sehingga memicu kekhawatiran investor, tidak hanya tentang kepayahan di sektor finansial, tapi juga dampaknya pada seluruh sendi perekonomian.

Selain itu, jumlah pesanan pabrik bulan Agustus turun hingga 4%, kemerosotan terbesar sejak 2006. Angka ini diatas prediksi analis yang menargetkan penurunan 2,5%. Ini mengindikasikan bahwa pengeluaran perusahaan telah turun bahkan sebelum kondisi kredit memburuk seperti saat ini.

Jumlah pengangguran meningkat seiring merosotnya jumah pesanan pabrik terbesar dalam dua tahun. Hal ini diterjemahkan pasar bahwa kredit ketat telah menghantam sektor manufaktur.
"Kondisi ekonomilah yang menyebabkan kejatuhan ini," ujar Subodh Kumar, global investment strategist dari Toronto-based Subodh Kumar & Associates. "Yang terjadi saat ini adalah fokus pada pelemahan di seluruh sektor ekonomi."

Data perekonomian yang mengecewakan ini tak pelak membuat bursa AS rontok. Pada perdagangan Kamis (2/10) dinihari tadi, indeks Dow Jones ditutup anjlok 348,22 poin (3,22%) ke level 10.482,85, indeks Nasdaq jatuh 92,68 poin (4,48%) ke level 1.976,72, posisi terendah dalam 3,5 tahun. Sementara Standard & Poor's 500 turun 46,78 poin (4,03%)ke level 1.114,28.

Sementara harga minyak Nymex jenis Light sweet crude jatuh US$4.56 menjadi US$93.97 per barel. Demikian juga harga emas dan komoditas lainnya.

Todd Salamone, Direktur perdagangan dari Schaeffer's Investment Research mengatakan, pasar bursa merupakan indikator utama untuk menilai kondisi perekonomian. Hal ini karena investor melakukan transaksi berdasarkan keyakinan terhadap prediksi kondisi ekonomi 6 bulan mendatang. "Ini berarti kejatuhan pasar bursa menunjukkan potensi kemandegan instabilitas ekonomi, meskipun bailout diloloskan," ujarnya, dikutip dari AP.

Menurutnya, banyak investor yang tidak memperhatikan paket dana talangan dan lebih melihat data-data ekonomi serta kondisi di pasar. "Pastinya, hal ini menimbulkan dampak psikologis negatif," imbuh Salamone.

Sementara itu, miliuner Warren Buffett menggambarkan AS saat ini sedang tertampar 'Ekonomi Pearl Harbor', dan pemerintah harus meresponnya dengan cepat."Ungkapan itu memang terdengar melodrama. Meskipun saya belum pernah menggunakan kata-kata itu sebelumnya, ungkapan itu tepat untuk menggambarkan kondisi AS saat ini," ujar Buffett.

Setelah disetujui senat AS Rabu kemarin, revisi paket dana talangan akan dibawa ke DPR AS Jumat (3/10) waktu setempat. Adapun revisi yang dilakukan adalah menambahkan keringanan pajak senilai US$110 miliar untuk kalangan bisnis dan kelas menengah, serta menaikkan batas atas asuransi Federal untuk deposito bank dari US$100.000 menjadi US$250.000.

Para pendukung rencana bailout ini berharap paket dana revisi itu bisa diterima oleh sebagian dari 133 anggota DPR AS dari partai Republik yang sebelumnya telah menolak paket ini dalam voting.
Rencana paket ini adalah agar pemerintah mau mengucurkan miliaran dolar untuk membeli aset buruk dari lembaga finansial dan sekuritas yang terimbas kredit bermasalah. Sehingga, sektor kredit yang selama ini menopang perekonomian AS bisa mengalir lagi dan menahan kejatuhan AS dalam jurang resesi.

Pasalnya, ketegangan yang terus menerus terjadi di sektor kredit telah menyebabkan tingginya kecurigaan, sehingga kalangan perbankan enggan memberi pinjaman antar bank. Hal ini tentunya akan membebani perekonomian, membuat peminjaman makin sulit dan biaya untuk sektor bisnis dan konsumsi menjadi mahal.

Hal ini terlihat dari pinjaman denominasi dolar dalam suku bunga LIBOR (The London Interbank Offered Rate) bertenor 3 bulan terpantau naik 4.21% dari sebelumnya 4.15%. Suku bunga LIBOR adalah tingkat bunga antar bank yang dikenakan untuk pinjaman overnight dan digunakan sebagai patokan untuk kredit konsumsi seperti mobil.

Pasar kredit juga menunjukkan peningkatan ketegangan. Suku bunga investasi teraman, US Treasury bertenor 3 bulan, turun menjadi 0.7% dari sebelumnya 0.79%. Hal ini mengindikasikan bahwa investor saat ini sudah tidak mempedulikan tingkat imbal hasil demi menyelamatkan aset mereka.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.