INILAH.COM, Jakarta Krisis keuangan AS telah menginfeksi seluruh sektor finansial global dan memicu kekhawatiran dunia. Tak heran, rencana paket dana senilai US$700 miliar yang akan diajukan ke DPR AS nanti malam, mendapat dukungan berbagai negara, termasuk Indonesia.
Saat ini kondisi perekonomian dunia sedang tidak kondusif. Permintaan pasar global melemah akibat krisis finansial AS yang mendunia. Demikian juga harga komoditas sebagai alternatif investasi terus merosot, karena kurang diminati pelaku pasar di tengah penguatan dolar. Dunia pun menanti kemampuan negara adidaya tersebut menyelamatkan sektor keuangannya.
Bambang Soesatyo, Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia mengatakan, stagnannya sektor riil global tidak bisa hidup, kalau keran kredit untuk modal kerja dan belanja bahan baku tidak segera dibuka oleh industri perbankan dunia.
Oleh karena itu, ia mendukung terealisasinya paket kebijakan penyelamatan sektor finansial AS yang diajukan pemerintah Presiden AS George W. Bush. "Persetujuan atas paket itu penting sebagai sinyal positif pemulihan perekonomian global," ujarnya kepada INILAH.COM , Jumat (3/10).
Presiden AS George W Bush dan sejumlah petinggi kongres kembali mengajukan rencana bailout yang telah direvisi ke DPR AS Jumat (3/10) malam ini, sebagai upaya meredam tekanan di pasar finansial dari hantaman krisis kredit.
Paket dana ini bertujuan agar pemerintah mau mengucurkan miliaran dolar untuk membeli aset buruk dari lembaga finansial dan sekuritas yang terimbas kredit bermasalah. Sehingga, sektor kredit yang selama ini menopang perekonomian AS bisa mengalir lagi dan menahan resesi.
Menurut Bambang, perekonomian global beberapa bulan ini dilanda kelesuan (slowdown) sejak lonjakan harga minyak. Permintaan ekspor menurun berlanjut pada merosotnya aktivitas ekonomi dunia. Ia pun menilai, dengan bergairahnya kembali perekonomian global, permintaan produk ekspor, terutama di dalam negeri akan tumbuh lagi.
"Pengusaha kita yang selama ini berorientasi ekspor, misalnya tekstil dan produk tekstil (TPT) bisa membangun kembali kontak dagang dengan partner mereka. Begitu juga eksportir produk perkebunan, karena harga komoditas ini diperkirakan akan menguat lagi," paparnya.
Selain itu, lanjutnya, dengan bangkitnya aktivitas ekonomi, pasar uang domestik pun bisa tenang dan tidak dirongrong oleh spekulasi. "Kita berharap pasar uang kita tidak bergejolak lagi, dan bisa kembali ke posisi yang ditargetkan APBN-P 2008," tukasnya.
Namun, Bambang mengingatkan untuk mewaspadai adanya aliran dana asing (hot money) yang masuk ke pasar uang Indonesia. Pasalnya, dana asing itu selama ini hanya menambah volume valas di pasar uang dan diuntungkan oleh suku bunga yang tinggi, tetapi dapat ditarik kapan saja oleh fund manager. "Pintar-pintarlah mengelolanya agar bermanfaat bagi kita," ujarnya.
Sementara itu, dukungan terhadap realisasi paket bantuan ini juga disampaikan Pemerintah Jepang. Wakil Menteri Sekretaris Kabinet Jun Matsumoto menyatakan pihaknya menyambut baik dana talangan yang akan diajukan ke DPR AS dan berharap usulan tersebut dapat segera menstabilkan ekonomi AS dan dunia.
"Kami mengharapkan RUU tersebut segera direalisasikan sehingga bisa menstabilkan perekonoman AS dan dunia," katanya seperti dikutip Kyodo.
Matsumoto melanjutkan, bahwa Jepang akan terus melanjutkan kerjasama yang erat dengan AS dan negara-negara lainnya untuk ikut menstabilkan gejolak pasar modal dan krisis finansial global.
Di Jepang, Bank Sentral Jepang (BOJ) Kamis, kembali menyuntikkan dananya mencapai 1,6 triliun yen (setara Rp15,2 triliun) guna membangkitkan gairah dalam sistem pasar uangnya. Injeksi dana itu dilakukan untuk keduabelas kalinya sejak akhir September lalu. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !