INILAH.COM, Jakarta - Meski Partai Golkar kurang nyaman dengan kemungkinan duet SBY-JK pada Pilpres 2009, namun peluang itu masih terbuka. Keinginan SBY maju sebagai Capres dengan menggandeng JK merupakan salah satu alternatif taktis.
"Opsi SBY-JK itu masih mungkin dipilih tergantung konfigurasi kekuatan politik setelah Pileg 2009, walaupun kondisi sekarang (opsi ini) sedikit kurang nyaman bagi Golkar sebagai partai besar dan pemenang Pemilu 2004," kata politikus muda Golkar Bejo Rudiantoro di Jakarta, Jumat (3/10).
Malah, menurut dia, bila ada pahitnya, langsung akan dirasakan Golkar. Begitu pula dampaknya terhadap bangunan partai secara keseluruhan.
"Dalam kaitan ini, kelihatannya Golkar akan selalu menjadi 'bemper' pemerintah. Ini sesungguhnya dilematis dari duet tersebut di mata arus bawah Golkar," ujar Bejo.
Sementara politisi muda Golkar lainnya, Victus Murin menyatakan, Golkar seharusnya jangan terus menjadi ban serep dengan hanya menerima saja ditempatkan di posisi papan dua.
"Saya setuju dengan pendapat mantan Penasihat DPP Partai Golkar, Bung Pinantun Hutasoit, agar sebagai partai besar, janganlah ada pernyataan atas nama partai, bahwa kita menerima posisi Wakil Presiden (Wapres) pada Pilpres mendatang. Itu tidak etis, dan belum waktunya," kata kader muda Golkar dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.
Mantan Sekjen Presidium Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini berpendapat, sebaiknya jika JK mau maju sebagai cawapres mendampingi SBY, itu karena keinginan pribadi, dan bukan resmi dari partai.
"Golkar harus bisa mencalonkan diri sebagai capres. Targetnya harus jelas begitu. Kan masih banyak partai yang potensial mau berkoalisi dengan kita. Tegasnya, Golkar masih membuka peluang berkoalisi dengan partai mana saja yang senafas dan sevisi, terlebih se-platform dengan kita, yakni berwawasan kebangsaan," imbuh Victus.[*/L8]