INILAH.COM, Washington - Setelah melalui perdebatan panjang, Kongres AS akhirnya menyetujui paket penyelamatan sektor keuangan senilai US$ 700 miliar, Jumat (3/10).
DPR AS itu memberikan persetujuan dalam pengambilan suara 263 setuju dibandingan 171 suara yang menolak.
Lampu hijau itu langsung membuat Presiden George W. Bush bergegas untuk membubuhkan tandatangannya guna mempercepat proses pembuatan UU-nya. Hal itu juga dilakukan untuk segera meredam gejolak pasar gobal akibat tak jelasnya program untuk pembenahan sektor finansial itu.
Namun, anehnya setelah persetujuan progra bailout itu, pasar bukannya bergairah melainkan justru sebaliknya. Begitu juga dengan nilai tukar dolar AS yang malah terhuyung. Penyebabnya adalah pasar bukan lagi fokus pada respons untuk segera menyelamatkan sektor finansial dari kejatuhan tapi sudah beralih pada kecemasan pada terjadinya resesi.
"Ini mungkin karena program ini dinilai sudah terlalu terlambat. Jika persetujuan ini diberikan lebih cepat, mungkin dampaknya jauh lebih besar dalam mengembalikan kepercayaan pasar," kata Anna Piretti, ekonom BNP Paribas di New York.
Sebelumnya, sektor keuangan sempat mempunyai harapan setelah Wells Fargo & Co menyatakan akan membeli Wachovia Corp.
Namun, langkah itu belm mampu meredam kecemasan pasar, apalagi setelah California menyatakan negara bagian itu sudah kehabisan uang, Perancis menyebutkan dunia sudah berada di ambang kehancuran dan para pemimpin Eropa terpecah dalam dua kubu terkait dengan upaya mengatasi masalah di sektor keuangan.
Menteri Keangan AS Henry Paulson, yang menjadi ketua lobi ntuk program penyelamatan itu, mengatakan para regulator harus segera mengimlementasikan kekuatan darurat ini untuk mulai membeli aset-aset bermasalah yang dimiliki perbankan.
"Kami telah menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat akan menstabilkan sektor finansial negara kami dan mempertahankan posisi sebagai pemeran utama dalam perekonomian global," kata Bush dalam keterangan singkatnya yang ditayangkan dari Gedung Putih.
Kongres sempat mengejutkan pasar dnia setelah sebelumnya menolak draf paket bailout. Tapi dengan semakin dekatnya jadwal pelaksanaan pemilu, yaitu 4 November 2008, para pembuat kebijakan itu mulai berpikir bahwa ketidakpastian upaya penyelamatan krisis keuangan ini justru akan menghantam upaya untuk menarik suara.
Pada Jumat (3/10), baik kubu Partai emkat dan Republik di DPR mengatakan penolakan terhadap paket bailout itu justru akan memperparah kondisi ekonomi AS yang kini sudah melemah.
Menjelang pemungutan suara di Kongres, saham di AS menguat dengan harapan paket bailout dapat menyelamatkan pasar dan juga adanya kesepakatan Wells untk membeli Wachovia.
Wells Fargo, salah satu bank terkuat di AS, mengatakan pihaknya tidak membutuhkan antuan pemerintah AS seperti yang dilakukan Citigroup Inc untuk membeli Wachovia.
Namun, para investor pada Jumat pagi diliputi kecemasan setelah pemrintah melaporkan tingkat pengangguran bulanan tertinggi dalam 5 tahun 6 bulan terakhir. Itu cukup sebagai bukti bahwa ekonomi AS sudah di ambang resesi.[L2]