inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Bailout Lolos, AS Masih Khawatir

Headline
George Walker Bush - istimewa
Oleh: Asteria
Sabtu, 4 Oktober 2008 | 14:29 WIB
INILAH.COM, New York Akhirnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS menyetujui paket rencana penyelamatan kredit macet melalui voting 263-171. Namun, saham-saham di Wall Street justru merosot tajam. Kini kondisi perekonomian AS menjadi fokus.

Setelah dua minggu perdebatan di kongres dan kekacauan di Wall Street, DPR AS akhirnya mendukung Rencana Undang-Undang (RUU) bailout senilai US$700 miliar, guna menyelamatkan industri finansial dan perekonomian AS yang terancam hancur.

Saat kongres melakukan voting atas RUU yang langsung ditandatangani oleh Presiden AS, George Walker Bush, Jumat (3/10) waktu setempat, saham-saham pun terus bergerak naik. Indeks Dow melesat lebih dari 300 poin.

Namun, pasar tiba-tiba berbalik arah dan keluar dari teritori positif. Investor menjual saham menjelang penutupan setelah sepanjang perdagangan mengalami rally.
Investor masih menahan diri menanti perkembangan selanjutnya dari implementasi dana talangan tersebut.

Pasalnya, resolusi rencana pemerintah dengan membeli aset-aset bermasalah dari perbankan dan institusi dalam memulihkan industri keuangan dan pasar kredit, dikhawatirkan tidak dapat mencegah terjadinya resesi dalam perekonomian AS. Wall Street pun menyadari bahwa disetujuinya rencana bailout tidak dapat memulihkan pasar dengan cepat.

Alhasil, indeks Dow Jones ditutup merosot 157,47 poin (1,5%) ke level 10.325,38 dan indeks Nasdaq Composite anjlok 29.33 poin (1.5%) pada posisi 1947.39 poin. Sedangkan indeks S&P 500 jatuh 15,05 poin (1,33%) ke level 1.099,23, penurunan mingguan terburuk sejak serangan teroris tahun 2001 lalu.

Saham-saham keuangan juga berada dalam tekanan besar. JPMorgan Chase mengalami penurunan US$3.95 menjadi US$45.90. CB Richard Ellis anjlok 12% menjadi US$9.45. Lennari turun US$1.81 menjadi US$12.08. Adapun saham keuangan pada S&P 500 turun 4% karena suku bunga di pasar uang menguat ke rekor tertinggi.
"Pasar selama 3 pekan ini mengalami krisis kredit yang berat dan telah menyebabkan kerusakan ekonomi yang tak terkira untuk negara," ujar Hank Smith, chief investment officer di Haverford Investments.

Menurut Hank, ketika RUU itu dapat menolong WallStreet, dampak yang meluas dari kelumpuhan pasar kredit masih belum muncul. "Paket dana ini memang dapat memecah kebekuan di pasar kredit, namun, kita tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Berapa banyak kerusakan yang ditimbulkan terhadap perekonomian,"imbuhnya.

Sepekan ini, perdagangan di seluruh pasar diwarnai turbulensi, karena ketidakpastian yang melanda investor tentang disetujuinya RUU dan dampak terhadap perekonomian setelah implementasi bailout dilakukan. Bursa Wall Street pada Senin awal pekan ini, sempat anjlok tajam, penurunan terbesar dalam sejarah setelah DPR AS menolak rencana bailout yang pertama.

Para pemimpin Senat pun segera merevisi agar RUU itu terselamatkan, dengan menambahkan keringanan pajak bernilai US$110 miliar untuk kalangan bisnis dan kelas menengah, serta menaikkan batas atas asuransi Federal untuk deposito bank dari US$100.000 menjadi US$250.000. Akhirnya persetujuan diberikan DPR AS.

Di sisi lain, pasar kredit saat ini masih terpantau stagnan, tidak ada pertanda kapan pengucuran kredit akan kembali ke level normal. Kendati demikian, pasar kredit menunjukkan adanya peningkatan permintaan untuk keamanan investasi.
Suku bunga US Treasury bertenor 3 bulan, jenis investasi teraman, jatuh menjadi 0.5% dari sebelumnya 0,7% kamis kemarin. Suku bunga ini terus melemah dalam beberapa pekan terkakhir karena tingginya minat investor untuk mengamankan dananya.

Sementara itu, data perekonomian AS yang dirilis akhir pekan ini memperkuat anggapan bahwa perekonomian AS kembali memburuk. Angka jobless claims di AS naik menjadi 3.59 juta orang pada pekan yang berakhir 20 September lalu, tertinggi sejak tahun 2003.
Selain itu, jumlah pesanan pabrik bulan Agustus turun hingga 4%, kemerosotan terbesar sejak 2006 yang ketika itu jatuh 4,8%. Hal ini memicu kekhawatiran investor, tidak hanya kepayahan di sektor finansial, tapi juga dampaknya pada seluruh sendi perekonomian.

Para pialang mengatakan, aksi investor akhir pekan ini merefleksikan pesimisme yang membayang hingga akhir tahun, dimana sentimen yang mendukung terjadinya rally sangat minim. Sehingga, sebaiknya, investor berhati-hati merealisasikan keuntungan saat ada peluang.

Sementara Ryan Larson, pialang saham senior dari Voyageur Asset Management, anak usaha RBC Dain Rauscher mengatakan, bahwa mungkin akan ada sedikit aksi pembelian (saham) berdasarkan rumor, dan terjadinya pelepasan saham berdasarkan berita.
"Lagipula, rencana ini tidak dapat memulihkan ekonomi dengan segera, masih butuh waktu. Karena masih ada banyak masalah di luar sana," ujar Larson.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.