INILAH.COM, Jakarta - Membuka perdagangan baru setelah libur panjang Lebaran, Bursa Efek Indonesia (BEI) sepertinya masih akan diwarnai kekhawatiran investor terkait dengan kondisi di Amerika Serikat.
Dengan begitu, BEI Senin ini (6/10) diperkirakan sepi karena masih banyak investor yang belum berani masuk bursa. Hal itu selain masih awal perdagangan usai libur panjang, investor masih akan terus memantau perkembangan di luar terkait dengan disahkannya program bailout sektor keuangan AS senilai US$ 700 miliar.
Ada juga faktor yang menghambat investor masuk bursa, yaitu rencana pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) untuk inflasi September yang akan dilakukan Senin ini.
Tingkat inflasi yang diperkirakan tinggi terkait dengan Ramadan dan Lebaran, dapat memberikan tekanan tersendiri terhadap lantai bursa hari ini.
Belum lagi tekanan terhadap sektor tambang dan komoditas lainnya seiring dengan melemahnya harga minyak mentah dunia yang ditutup melemah akhir pekan lalu di level US$ 93 per barel.
Kondisi itu diperkirakan akan membuat banyak investor memilih sikap wait and see, sementara jika ingin berinvestasi, kemungkinan mereka lebih memilih untuk jangka panjang, terutama terhadap saham-saham unggulan seperti Telkom (TLKM), Indosat (ISAT), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Indofood (INDF), Unilever (UNVR), dan saham kelompok Astra.
Wall Street mengakhiri pekan lalu dengan aksi lepas saham meskipun Kongres AS sudah memberikan lampu hijau terhadap paket penyelamatan sektor keuangan senilai US$ 700 miliar.
Pasar masih belum memberikan respons positif meski DPR AS sudah menyetujui paket bailout itu. Hal itu terkait dengan kecemasan pasar terhadap masa depan ekonomi yang masih akan menghadapi banyak kendala, terutama dengan adanya pengumuman Departemen Tenaga Kerja AS bahwa tingkat pengangguran mencapai level tertinggi dalam lima tahun enam bulan terakhir.
Hal itu itu berakibat pada kejatuhan indeks Dow Jones sebesar 157 poin, yang diikuti oleh indeks lainnya.
Investor mulai melepas kepemilikan mereka di akhir-akhir perdagangan setelah pada sesi siang indeks sempat menguat. Setelah Kongres menyetujui paket penyelamatan itu, indeks gonjang ganjing dengan bergantian masuk zona positif dan negatif sebelum akhirnya terdampar di zona merah sebesar lebih dari 150 poin.
Investor masih ragu dengan efektivitas program itu dalam menyelamatkan perekonomian AS dan global melalui pembelian aset-aset bermasalah sektor perbankan.
Wall Street juga beranggapan bahwa persetujuan itu sudah sangat terlambat setelah sektor keuangan memasuki era terburuk dalam sejarah AS.
Akibatnya, indeks Dow Jones turun 157,47 poin menjadi 10.325,38 setelah sebelumnya sempat melompat lebih dari 310 poin.
Sementara indeks Standard & Poor's 500 turun 15,05 poin menjadi 1.099,23, dan indeks Nasdaq anjlok 29,33 poin menjadi 1.947,39.
Sementara itu harga minyak ditutup melemah di tengah suasana pasar yang bergejolak, Jumat (3/10), yang hampir bersamaan dengan diberikannya persetujuan oleh Kongres AS terhadap paket bailout senilai US$ 700 miliar.
Hal itu terkait dengan kecemasan pasar yang begitu tinggi terhadap masa depan perekonomian AS dan global, sehingga ditakutkan itu akan semakin menekan permintaan terhadap energi.
Investor banyak melepas kepemilikan mereka di pasar komoditas setelah Departemen Tenaga Kerja melaporkan tingginya tingkat pengangguran bulan lalu, bahkan itu merupakan level tertinggi dalam lima setengah tahun terakhir, meski kemudian kecemasan itu akan berkurang menyusul hampir tercapainya kesepakatan Wells Fargo Co. untuk membeli Wachovia Corp. senilai US$ 15,1 miliar.
Harga minyak jenis light sweet untuk pengiriman November akhirnya ditutup melemah 9 sen menjadi US$ 93,88 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara harga minyak jenis Brent untuk pengiriman November jatuh 31 sen menjadi US$ 90,25 per barel.[L2]