INILAH.COM, Jakarta Figur datang silih berganti. Tapi, nyaris tak ada yang bisa menandingi Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Analis politik memprediksi SBY-JK akan memimpin bangsa ini untuk periode kedua. Prediksi yang sangat mungkin jadi kenyataan.
Jusuf Kalla mengambil keputusan tegas dan keras. Dia mencoret semua calon legislatif Partai Golkar yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Tak seorang pun dengan nama belakang Kalla diperbolehkannya menjadi caleg Golkar untuk anggota legislatif. "Tak ada toleransi bagi KKN di Golkar," tegasnya. Itu dilakukan untuk menjaga kredibilitas keluarga besar JK maupun Partai Beringin itu.
Tak mau ketinggalan kereta, SBY pun mengambil garis tegas. Dia mempersilahkan lembaga peradilan, khususnya Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) memeriksa semua pihak yang diduga melakukan korupsi. Termasuk juga, orang-orang yang dekat dengan dirinya. SBY tak menyebut nama. Tapi, publik sudah pasti tahu, yang dia maksud adalah Aulia Pohan, mantan anggota Dewan Gubernur BI. Aulia adalah besan SBY.
Langkah SBY-JK adalah pijakan kesepakatan untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dengan cara masing-masing. Mereka seakan memberi gambaran, bagaimana mungkin KKN bisa diberantas kalau tak diawali dengan kebijakan pemimpin bangsa.
Benar, di era SBY-JK terjadi lonjakan jumlah orang miskin. Penurunan itu, utamanya, adalah akibat gejolak ekonomi dunia yang dampaknya tak terhindarkan, berpengaruh pula ke dalam negeri.
Angka kemiskinan adalah persoalan yang mesti diselesaikan dalam waktu ke depan. SBY-JK masih punya kesempatan. Syaratnya, duet ini harus mau membenahi sektor pertanian, kelautan, dan pedagang kecil serta kaum miskin. Semua harus diberdayakan dengan kebijakan yang memihak kaum lemah tersebut.
Kedigdayaan SBY-JK makin teruji. Itu pula yang membangkitkan optimisme. SBY pun secara tegas menyatakan maju lagi dalam Pilpres 2009. Dan JK, siap menjadi pendampingnya, mempertahankan dwitunggal kepempinan bangsa.
Lantas bagaimana peluang Wiranto, Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, Sutrisno Bachir, atau Hidayat Nur Wahid dalam Pilpres 2009 nanti? Sulit diprediksi salah satu di antara mereka bisa menang. Namun, seperti tipisnya perbedaan kawan dan lawan dalam politik, peluang itu tak mustahil bisa saja terjadi.
Ada pandangan sejumlah analis bahwa Prabowo dan Gerindra, jika mendapat suara kecil di bawah 5%, sebaiknya berkoalisi dengan SBY-JK (Partai Demokrat dan Golkar) seraya menyiapkan diri untuk Pilpres 2014. "Peluang Prabowo masih bisa untuk Pilpres 2014. Namun Wiranto dan Megawati akan habis-habisan pada 2009 ini. Pada 2014 mereka sudah sepuh, out of date, dan tak bisa maju lagi," kata pemerhati politik, Nehemia Lawalata.
Peneliti senior LIPI, Mochtar Pabottingi bersama para alumni Universitas Hasanuddin dalam acara tudang sipulung (duduk bersama), Senin (6/10), juga menyatakan dukungannya untuk JK yang maju ke Pilpres 2009. "Tidak usah jauh-jauh. Pemimpinnya ada di depan kita. Alumni Unhas cukup pilih JK," ujar Mochtar disambut tepuk tangan yang hadir.
Tampilnya duet SBY-JK dalam Pilpres 2009 sudah memberikan sinyal bahwa dwitunggal ini tampaknya siap kalah-menang secara solid dan senasib. "SBY-JK semestinya tetap satu paket. Kalah atau menang dalam Pilpres itu soal biasa. Namun duet mereka bisa menjadi cermin rasa senasib seperjuangan Jawa-Luar Jawa dalam kancah politik Indonesia. Mereka bernilai dan bermakna sebagai dwitunggal bagi keindonesiaan,'' kata pengamat politik Abas Jauhari MS dari PSIK Universitas Paramadina.
Gelombang dukungan terhadap Jusuf Kalla untuk kembali maju ke kancah politik nasional melalui Pemilu 2009 mendatang ini sudah menggeliat. Sehari sebelumnya, Ketua Umum BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Hasanuddin Massaille menegaskan di depan 874 peserta Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) X 2008 di Gedung Celebes Convention Center (CCC), akan mendukung kembali JK berduet dengan SBY.
Sejarah Golkar dan Partai Demokrat, tampaknya, terasa masih tetap terang-benderang. Dan, gelagatnya, SBY-JK seng ada lawan. [I4]