INILAH.COM, Jakarta Setali tiga uang dengan pasar modal, nilai tukar rupiah pada perdagangan valas anjlok 3,23%. Krisis di AS telah membuat pelaku pasar panik dan berburu dolar karena khawatir mata uang AS itu bisa tembus ke level Rp 10.000.
Pada penutupan perdagangan valas, Senin (6/10) rupiah melemah 300 poin atau 3,23% ke posisi 9.585 per dolar AS. Volatilitas perdagangan rupiah hari ini sangat lebar dan kuat bahkan sempat berada di level terendah 9.600.
"Ada panic buying dolar AS, karena kebutuhan dolar yang sangat tinggi akibat pengetatan likuiditas. Sehingga investor yang memiliki exposure di emerging market melepas semua aset dan mengkonversinya ke dolar," papar pengamat valuta asing Farial Anwar, di Jakarta, Senin (6/10).
Menurutnya, unsur spekulasi lebih dominan pada pelemahan rupiah kali ini karena penurunannya yang sangat tajam. Pasar panik dengan krisis di AS dan imbasnya menjalar Indonesia.
Importir, lanjut Farial, juga buru-buru melakukan pembelian dolar karena kuatir nilai mata uang negara Paman Sam itu akan semakin mahal dan tidak bisa membeli bahan baku. Hal ini kemungkinan akan memicu imported inflation.
Rupiah mengikuti pelemahan mata uang kawasan seperti dolar Hong Kong melemah 0,01%, rupee India melemah 4,93%, won Korea melemah 12,43%, peso Filipina melemah 2,73%, dolar Singapura melemah 3,91%, bath Thailand melemah 1,51%, dolar Taiwan melemah 1,03%.
Pasar valas juga masih diliputi kekhawatiran masih tingginya inflasi di Indonesia hingga akhir tahun. Sehingga bakal memaksa BI terus melakukan tight money policy secara bertahap dalam rangka inflation targeting framework.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi selama September 2008 mencapai 0,97%, inflasi tahun kalender pada September 2008 sebesar 10,47%, dan inflasi tahunan pada September 2008 sebesar 12,14%. Pada Agustus 2008 sebelumnya, BPS melaporkan laju inflasi hanya sebesar 0,51%, inflasi tahun kalender 9,4%, dan inflasi tahunan 11,85%.
Dikabarkan pula posisi investor asing dalam Surat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan saham mulai mengalami penurunan. Investor asing diduga mencairkan investasinya di Indonesia karena krisis di AS telah membuat investor tersebut kesulitan likuiditas.
"Banyak orang kini membutuhkan dolar AS untuk mendapatkan likuiditas. Salah satu cara mereka adalah dengan menjual aset terutama di sektor finansial seperti SBI, SUN, dan saham," tandas Farial.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !