Minggu, 27 Mei 2012 | 01:39 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pergerakan Rupiah Masih Lebar
Headline
istimewa
Oleh: Vina Ramitha & Natascha
web - Selasa, 7 Oktober 2008 | 08:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Pergerakan perdagangan mata uang rupiah, Selasa (6/10) diperkirakan masih akan sangat lebar yang pada rentang 9.475-9.600 per dolar AS. BI diharapkan dapat mencegah kejatuhan rupiah lebih dalam dengan menyediakan kebutuhan dolar.
Analis pasar uang Farial Anwar mengatakan, rupiah masih akan terus berfluktuasi. Tidak jauh berbeda dengan volatilitas dolar pada perdagangan kemarin yang sangat lebar dan kuat bahkan sempat menyentuh level terendah 9.600.
"Kemarin ada panic buying dolar AS, karena kebutuhannya yang sangat tinggi akibat pengetatan likuiditas. Sehingga investor yang memiliki exposure di emerging market melepas semua aset dan mengkonversinya ke dolar AS. Kondisi ini masih belum berakhir dan rupiah hari ini akan berfluktuasi di kisaran 9.475-9.600," papar Ferial, kemarin.
Importir juga buru-buru membeli dolar AS karena kwawatir mata uang negara Paman Sam itu akan semakin mahal sehingga tidak bisa membeli bahan baku. Hal ini kemungkinan akan memicu imported inflation.
"Saat ini yang diharapkan adalah upaya BI untuk meredam gejolak rupiah dan memenuhi likuiditas. Salah satunya mengendalikan perdagangan valas terutama di bank-bank asing, sebab hal itu akan cukup menambah volatilitas rupiah," paparnya.
BI juga diharapkan bisa menyediakan dolar ke pasar seiring tingginya kebutuhan. BI bisa melakukan intervensinya dengan melepas dolar dari cadangan devisanya. "Hal ini perlu dilakukan menyusul investor yang tergesa-gesa membeli dolar sebab ekspektasinya akan menuju level 9.700," tandasnya.
Analis HD Capital James Bryson menilai dolar yang sempat menguat tajam hari ini terdorong aksi investor yang kembali mengalihkan dananya ke mata uang AS itu. Apalagi melihat Eropa sedang mengalami gejolak finansial sehingga investor mengurangi posisinya di high yield market dan high yield currency dan kembali ke dolar.
Sementara itu Gubernur BI Boediono mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus 9.550 per dolar AS juga dialami mata uang negara lain. "Kurs itu naik turun. Coba lihat mata uang lain juga seperti itu. Kita tidak sendirian," kata Boediono.
Menurutnya, untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI akan tetap berada di pasar keuangan untuk mengawal rupiah tidak terus melemah. "Kita tetap di pasar. Itu saja," katanya. Nilai tukar rupiah Senin (6/10) melemah hingga 9.550 per dolar AS mengikuti tren melemahnya mata uang di regional. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.