INILAH.COM, Jakarta Situasi pasar modal dan keuangan kian melorot. Krisis keuangan Amerika Serikat, faktanya, berdampak tak kecil. Tapi, pemerintah tetap optimistis. Laksana mengenakan lipstik tebal pada wajah ekonomi pucat pasi.
Pemerintah terus saja bersitegas, menyatakan optimismenya bahwa Indonesia tidak akan terkena dampak dari krisis keuangan Amerika. Padahal, kalangan ahli di luar negeri memperkirakan negara-negara emerging market, seperti Indonesia, akan terkena dampak yang bisa dikategorikan sebagai berbahaya.
Hasil rapat kabinet yang diperluas, Senin (6/10), yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali pernyataan optimistis Presiden, sebenarnya tidaklah mengejutkan. Sejumlah kalangan sudah bisa memperkirakan bahwa pemerintah menganggap krisis di Amerika tidak akan berdampak langsung kepada ekonomi Indonesia.
Pemerintah yakin, dampak yang dirasakan Indonesia adalah berupa dampak kedua atau ikutan, yakni terhadap ekspor ke Amerika. Merosotnya kinerja ekonomi Amerika, akan membuat impor negara itu dari sejumlah mitra dagangnya, termasuk Indonesia, juga pasti akan merosot.
Namun, sejumlah kalangan percaya fakta sebenarnya tidaklah sebagus yang diungkapkan pemerintah. Potensi krisis yang akan menghantam negara-negara lain lebih besar dari yang diperkirakan.
Indonesia, misalnya, berpotensi terkena dampak krisis karena defisit perdagangannya yang besar. Artinya, Indonesia membutuhkan pendanaan luar negeri yang stabil. Masalahnya, dana-dana luar negeri saat ini amat kering karena pemilik dana lebih memilih menyingkir dari pasar. Tidak panik adalah satu hal, tapi melihat kondisi ini dengan teliti adalah hal lain.
Pasar saham-saham di Asia yang diperkirakan tidak terlalu bermasalah, juga memperlihatkan hal sebaliknya. Selasa (7/10) pagi, harga-harga saham di bursa utama Asia langsung dibuka merosot.
Nikkei di Tokyo turun hinga mencapai posisi terendah dalam lima tahun terakhir ini. Hal yang sama terjadi di bursa Singapura, India, Taiwan, Australia, dan banyak lagi pasar saham lainnya. Kondisi pasar yang melemah itu juga terlihat di negara-negara Eropa, Rusia, dan Amerika Latin.
Sementara itu mata uang rupiah juga jatuh terhadap dolar Amerika yang hampir menyentuh 10.000 per dolar Amerika. Kondisi ini bisa memaksa Bank Indonesia turun tangan melakukan intervensi dan menaikan suku bunga rujukan. [I4]