INILAH.COM, Jakarta - Di tengah situasi lantai bursa yang hancur lebur, dua punggawa ekonomi Indonesia, yaitu Gubernur Bank Indonesia Boediono dan Menko Perekonomian Sri Mulyani malah mementingkan hadir di sidang tahunan IMF.
Sejumlah pengamat mengatakan kehadiran Boediono dan Sri itu nyaris tak ada manfaatnya bagi Indonesia, kecuali hanya informasi yang didapat mengenai kondisi sebenarnya krisis yang menimpa AS dan negara maju lainnya.
Padahal kondisi di dalam negeri sedang gawat-gawatnya setelah otoritas bursa memutuskan menutup sementara perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelang penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (8/10).
Yang patut dipertanyakan dari kehadiran keduanya ke Amerika Serikat untuk menghadiri sidang tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) itu adalah efektivitas dalam upaya penyelamatan bursa domestik menyusul tekanan makin berat dari faktor eksternal.
Terlebih lagi dengan keputusan BI untuk kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) menjadi 9,5%, yang dinilai banyak kalangan sebagai langkah yang berkebalikan dengan kondisi di pasar yang justru menginginkan penurunan suku bunga untuk menggairahkan kredit.
Apalagi selama ini IMF dinilai gagal dalam menyelamatkan perekonomian Indonesia setelah krisis ekonomi menghantam negeri ini pada 1998 lalu.[L2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !